PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Berdasarkan pengamatan pada seluruh hotel berbintang di Pulau Kalimantan pada November 2024, tingkat penghunian kamar atau TPK hotel berbintang tertinggi tercatat di Kalimantan Timur sebesar 68,39 persen, sementara yang terendah di Kalimantan Barat sebesar 50,91 persen.

"Secara nasional, rata-rata TPK hotel berbintang pada bulan tersebut mencapai 54,96 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalteng, Agnes Widiastuti pada Kamis, 16 Januari 2025.

Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, TPK hotel berbintang di beberapa wilayah mengalami fluktuasi. Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah mencatat peningkatan masing-masing sebesar 1,58 poin, 1,41 poin, dan 0,26 poin.

"Sebaliknya, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat mengalami penurunan TPK masing-masing sebesar 4,35 poin dan 2,40 poin. Pada tingkat nasional, rata-rata TPK hotel berbintang pada November 2024 mengalami penurunan sebesar 0,72 poin, dari 55,67 persen menjadi 54,96 persen," katanya.

Jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya, TPK hotel berbintang pada November 2024 juga menunjukkan variasi. Kalimantan Tengah mencatat peningkatan tertinggi sebesar 5,35 poin, sementara Kalimantan Barat mengalami penurunan terdalam sebesar 9,60 poin.

"Secara keseluruhan, rata-rata TPK hotel berbintang di Indonesia pada November 2024 dibandingkan dengan November 2023 mengalami penurunan sebesar 1,76 poin," tuturnya.

Penurunan TPK di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perubahan musim wisata dan kondisi ekonomi lokal. Sementara itu, peningkatan TPK di Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah menunjukkan adanya peningkatan minat wisatawan atau kegiatan bisnis di wilayah tersebut.

"Secara nasional, penurunan rata-rata TPK hotel berbintang pada November 2024 dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan tahun sebelumnya menunjukkan adanya tantangan yang dihadapi industri perhotelan," kata Agnes lagi.

Faktor-faktor seperti persaingan dengan akomodasi non-hotel, perubahan preferensi wisatawan, dan kondisi ekonomi global dapat berkontribusi terhadap penurunan ini.

Dengan demikian, industri perhotelan di Kalimantan dan secara nasional perlu terus beradaptasi dan mencari strategi untuk meningkatkan TPK, termasuk melalui promosi wisata, peningkatan kualitas layanan, dan penawaran paket-paket menarik bagi wisatawan. (TESTI PRISCILLA/H)