SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Sebanyak 90 pegawai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) penginputan Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh pemegang akun SIRUP dari 30 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), 17 kecamatan, 17 kelurahan, 21 puskesmas, 3 rumah sakit, serta 2 UPTD.

“Penginputan SIRUP merupakan simbol dimulainya proses pelaksanaan anggaran. Dengan integrasi data antara SIPD dan SIRUP, percepatan penginputan rencana umum pengadaan barang/jasa otomatis menjadi langkah strategis dalam mempercepat pembangunan di daerah,” kata Pj Sekda Kotim, Sanggul Lumban Gaol, Kamis, 16 Januari 2025.

Melalui Bimtek ini, Pemkab Kotim berharap dapat meningkatkan kualitas dan efektivitas pengadaan barang/jasa, mendukung transparansi, dan mendorong percepatan pembangunan di wilayah Kotim 

Kegiatan ini juga menjadi salah satu bukti dukung yang diminta dalam penilaian Indeks Tata Kelola Pengadaan (ITKP) serta Monitoring Center of Prevention (MCP) KPK sehingga penginputan SIRUP secara menyeluruh adalah kewajiban bagi seluruh pengguna anggaran.

Sementara itu, Kepala Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Kotim, Yephi Hartady Periyanto, menjelaskan bahwa Bimtek ini rutin dilakukan setiap tahun sebelum dimulainya proses belanja APBD.

“Tahapan awal ini sangat penting. Semakin cepat kita melaksanakan penginputan rencana umum pengadaan, semakin baik,” ujarnya.

Materi Bimtek kali ini mencakup beberapa aspek penting, di antaranya prosedur penginputan SIRUP, monitoring penerapan sistem pengadaan barang/jasa yang dilaksanakan pada 2024 dan peningkatan kemampuan menggunakan aplikasi SiPebeje, yang dirancang khusus oleh Pemkab Kotim untuk pengelolaan barang/jasa.

Pemkab Kotim menetapkan target penginputan SIRUP selesai sebelum 31 Maret 2025. Hal ini bertujuan untuk memastikan seluruh rencana pengadaan barang/jasa dapat dilakukan dengan tepat waktu sesuai pedoman dari KPK dan regulasi RKPP.

Pelaksanaan Bimtek kali ini sengaja dilakukan di luar kantor untuk menciptakan suasana kerja yang lebih santai namun tetap serius.

“Kami ingin memberikan apresiasi kepada peserta yang selama ini bekerja tanpa honor khusus, sehingga mereka tetap semangat dalam menjalankan tugasnya,” tandas Yephi. (DEWI PATMALASARI/R)