PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Workshop "Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) dan Nilai Ekonomi Karbon (NEK)" yang diselenggarakan oleh Yayasan Pesona Tropis Alam Indonesia atau PETAI dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 16-17 Januari 2025 di Hotel Radisson, Medan, merupakan langkah strategis dalam upaya penurunan emisi Gas Rumah Kaca atau GRK.

"Kegiatan ini menunjukkan komitmen Provinsi Sumatera Utara untuk berkontribusi dalam penurunan emisi GRK dengan target sebesar 4,86 juta ton CO2 ekuivalen," kata Pj Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, M A Effendi Pohan membuka kegiatan tersebut.

Workshop ini juga sejalan dengan gagasan "Sumut Hijau" tahun 2026, yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat di Sumatera Utara. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia, yang merupakan komitmen nasional untuk mengurangi emisi GRK sesuai dengan Perjanjian Paris.

Dalam workshop ini, berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil, berkumpul untuk berdiskusi dan berbagi pengetahuan tentang REDD+ dan NEK. Mereka membahas berbagai strategi dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan, serta meningkatkan nilai ekonomi karbon.

"Salah satu fokus utama dari workshop ini adalah pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak dalam upaya penurunan emisi GRK. Dengan bekerja sama, diharapkan dapat tercipta solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan untuk mengatasi perubahan iklim dan melindungi lingkungan," katanya.

Selain itu, workshop ini juga menyoroti pentingnya edukasi dan peningkatan kapasitas bagi masyarakat lokal dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan, masyarakat dapat berperan aktif dalam upaya penurunan emisi GRK dan pelestarian lingkungan.

Salah satu peserta yang menonjol adalah Profesor Rahmawaty, seorang ahli dalam bidang kehutanan dan lingkungan hidup yang bertindak sebagai Pokja REDD.

"Secara keseluruhan, workshop REDD+ dan NEK ini merupakan langkah penting bagi Provinsi Sumatera Utara dalam mencapai target penurunan emisi GRK dan mendukung pencapaian NDC Indonesia. Melalui kolaborasi dan edukasi, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi generasi mendatang," kata Prof Rahmawaty. (TESTI PRISCILLA/H)