BORNEONEWS, Sampit – Keberadaan etnis Tionghoa di Kotawaringin Timur (Kotim) memiliki sejarah panjang yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat. Menurut Wenshi Suhardi, tokoh agama Konghucu Kotim, orang Tionghoa khususnya dari suku Han telah bermigrasi ke tanah Borneo sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka hidup berdampingan dengan warga lokal, bahkan sebelum masa penjajahan Belanda.
“Dalam catatan sejarah, orang Tionghoa sudah ada di Borneo jauh sebelum kemerdekaan. Ketika penjajah Belanda masuk, mereka memanfaatkan kedekatan orang Tionghoa dengan masyarakat lokal untuk menjadi mediator antar suku,” kata Wenshi Suhardi, Minggu, 19 Januari 2025.
Seiring waktu, etnis Tionghoa terasimilasi dengan penduduk lokal. Mereka tidak hanya menjadi bagian dari masyarakat, tetapi juga turut memperkaya tradisi setempat dengan budaya Tionghoa, seperti barongsai dan festival tradisional lainnya.
Di Kotim, kelenteng pertama didirikan pada tahun 2000 oleh Hadi Siswanto, seorang tokoh masyarakat yang menghibahkan tanah dan membangun klenteng ini. Klenteng tersebut bernama Kong Miao Litang atau klenteng Harmoni Kehidupan.
“Sebelumnya, umat Konghucu beribadah di Tri Dharma bersama umat Buddha. Namun, karena jumlah penganut semakin banyak, akhirnya klenteng ini didirikan untuk memfasilitasi umat Konghucu,” ujar Wenshi.
Keberadaan kelenteng tersebut sangat penting dalam melestarikan budaya Tionghoa di Kotim. Berbagai tradisi seperti barongsai dan festival khas Tionghoa berakar dari ajaran agama tertua ini.
Meskipun jumlah penganut Konghucu di Kotim tidak terdeteksi secara pasti, Wenshi menyebutkan bahwa mereka tersebar di berbagai wilayah dan mencapai ratusan orang. Keberadaan mereka turut memperkaya keragaman budaya di daerah ini.
Adapun agama Konghucu memiliki beberapa ritual utama yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, nabi, malaikat, dan leluhur. Wenshi Suhardi menjelaskan empat jenis ritual dalam agama Konghucu yaitu Ibadah kepada Tuhan yang dilaksanakan berdasarkan peredaran musim semi, panas, gugur, dan dingin. Kemudian ibadah kepada Nabi Konghucu pada momen memperingati hari lahir, wafat, dan pengembaraan nabi.
Lanjutnya, ibadah kepada Malaikat yaitu untuk menghormati malaikat seperti malaikat bumi, tanah, dan air pada hari kelahirannya. Yeng terakhir ibadah kepada leluhur yang dilakukan pada hari wafat leluhur, khususnya menjelang perayaan Imlek.
“Ibadah ini tidak hanya untuk menjalankan ajaran agama, tetapi juga menjaga tradisi dan budaya leluhur yang telah diwariskan,” tambahnya. (DEWI PATMALASARI/j)









