BORNEONEWS, Tamiang Layang - Meski mendapatkan tugas mengajar jauh dari keramaian kota, seorang guru SD Negeri Gunung Karasik di Desa Apar Batu Kabupaten Barito Timur menciptakan riak besar melalui deretan kata-kata. Nama Nani Kurniani mungkin belum sepopuler tokoh besar dunia sastra, tetapi kiprahnya dalam dunia kepenulisan telah menginspirasi banyak orang.
Baru-baru ini, Nani menerima dua medali dari Dandelion Publisher, sebuah penghargaan atas kontribusinya sebagai penulis quotes (pesan moral, inspirasi, motivasi atau pengajaran) dalam buku berjudul Kita dalam Barisan Kata. Tidak hanya menjadi bagian dari 555 penulis yang karyanya terbit dalam buku tersebut, Nani juga berhasil menyabet juara ketiga sebagai penulis quotes terbaik.
“Pada buku Kita dalam Barisan Kata, saya menulis satu quotes tentang percaya diri. Tujuan saya untuk memotivasi banyak orang, khususnya kaum muda, agar lebih yakin dengan kemampuan mereka sendiri,” ujar Nani dengan penuh semangat saat diwawancarai, Senin, 20 Januari 2025.
Bertugas di sekolah yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Kota Tamiang Layang tak mematahkan semangat Nani untuk terus berkarya. Baginya, tempat bukanlah halangan untuk menulis.
“Menulis sudah menjadi hobi saya. Di mana pun saya ditugaskan, sekalipun di tempat terpencil, itu tidak mengganggu waktu saya untuk terus berkarya,” tegasnya.
--page
Sebagai guru kelas VI, Nani tidak hanya berbagi ilmu di ruang kelas tetapi juga melalui tulisannya. Hingga kini, ia telah menulis 25 buku antologi bersama penulis lain dan satu buku solo berjudul 75 Kata Motivasi dari Para Tokoh-Tokoh Dunia. Buku-buku ini tidak hanya memperkaya wawasan pembacanya, tetapi juga menjadi sumber pendapatan tambahan melalui royalti dari penerbit.
Perjalanan Nani dalam dunia kepenulisan penuh dengan pencapaian. Pada 2024, ia menerima dua penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Karya antologi puisi akrostik berjudul Pinasthika Laksamana yang ditulisnya bersama penulis lain memecahkan rekor MURI. Tak lama berselang, Nani kembali menerima penghargaan serupa sebagai bagian dari 1.000 penulis buku antologi pantun jenaka Nusantara berjudul Alegra.
Penghargaan lain datang dari Dwi Sastra Publisher di Boyolali, Jawa Tengah, yang memberinya piala sebagai penulis terpilih.
“Saya juga berencana menerbitkan tulisan karya ilmiah best practice waktu mengikuti lomba guru berprestasi pada tahun 2023,” ungkapnya tentang rencana masa depan.
Bakat dan pengalamannya dalam menulis membuat Nani sering diminta menjadi narasumber. Baru-baru ini, ia berbagi ilmu di kepada guru yang tergabung dalam Balai Guru Penggerak Kalimantan Utara. Dalam pelatihan tersebut, Nani membahas kriteria buku yang sesuai untuk anak usia dini, dengan buku Ranting untuk Tong-Tong sebagai contoh. Buku dongeng fabel itu mengangkat kisah binatang dengan pesan moral yang kuat.
“Dongeng fabel adalah cerita moral yang menyampaikan pesan melalui perilaku binatang yang menyerupai manusia. Ini adalah cara efektif untuk mendidik anak-anak,” tuturnya.
Keteguhan hati Nani untuk terus berkarya menjadi bukti bahwa menulis adalah jalan baginya untuk menerangi dunia, baik di ruang kelas maupun di luar sana. Sebagai istri seorang anggota Polri yang bertugas di Polsek Awang, Nani tak hanya menjadi inspirasi bagi murid-muridnya, tetapi juga komunitas literasi di Indonesia.
Perjalanan Nani mengajarkan bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi penghalang untuk bermimpi dan berkarya. Melalui tulisannya, ia menanamkan keyakinan bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk mengubah dunia, dimulai dari langkah-langkah kecil namun berarti.
“Karya tulis saya adalah pesan kepada dunia bahwa mimpi besar bisa dimulai dari tempat kecil,” tutupnya dengan senyum penuh keyakinan. (AGUSTINUS BOLE MALO/Y)









