PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kasus pelecehan seksual yang melibatkan orang terdekat korban kembali menjadi sorotan setelah beberapa kasus terungkap di Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.

Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi Kalimantan Tengah, Widiya Kumala Wati, mengungkapkan bahwa fenomena ini disebabkan oleh kompleksitas faktor psikologis, sosial, dan kultural. Kedekatan dan kepercayaan yang terbangun antara pelaku dan korban seringkali dimanfaatkan pelaku untuk melakukan manipulasi dan kontrol.

Dari sisi psikologis, pelaku mungkin memiliki ketergantungan emosional pada korban atau merasa superior dan berhak mengontrolnya. Sementara itu, faktor sosial memberikan akses dan kesempatan lebih mudah bagi pelaku untuk melakukan pelecehan, dengan pengawasan yang cenderung kurang efektif.

Lebih lanjut, budaya patriarki dan stigma sosial yang masih melekat di masyarakat juga berperan penting. Budaya patriarki memperkuat kekuasaan laki-laki atas perempuan, sementara stigma dan rasa malu membuat korban enggan melapor, terutama jika pelakunya adalah anggota keluarga.

"Kurangnya pendidikan dan kesadaran tentang pelecehan seksual dan hak-hak korban juga memperparah situasi," ungkap Widya, Selasa, 21 Januari 2025.

Kapolres Kotim, AKBP Resky Maulana Zulkarnain, mengungkapkan data terbaru terkait kasus asusila di wilayahnya. Dari tiga kasus yang terungkap sejak awal Januari 2025, terdapat 10 korban, dengan delapan korban dalam satu kasus.

"Hampir semua pelaku adalah orang terdekat korban, menggunakan modus beragam mulai dari bujuk rayu hingga pemaksaan dan intimidasi," kata Rezky.

Untuk mencegah dan menanggulangi kasus ini, sinergi dan kolaborasi antar berbagai pihak sangat penting. UPT PPA, Dinas Sosial, relawan, NGO, dan psikolog perlu bekerja sama untuk memberikan dukungan dan pemulihan korban melalui trauma healing.

Masyarakat juga diimbau untuk lebih peduli dan memperhatikan lingkungan sekitar, memberikan pengawasan dan edukasi tentang pencegahan kekerasan seksual.

Langkah konkrit dan komitmen bersama dari seluruh stakeholder sangat diperlukan. Perhatian khusus harus diberikan pada faktor-faktor yang menyebabkan orang terdekat menjadi pelaku, seperti ketidaksetaraan gender, keinginan pelaku, kesempatan, stimulus dari korban, dan kekuasaan pelaku.

Riwayat pelecehan seksual, lingkungan patriarki, fantasi seksual menyimpang, konsumsi konten porno, tekanan emosional, stres, dan ketidakpuasan dalam keluarga juga perlu menjadi perhatian.

Edukasi dan kesadaran masyarakat tentang pelecehan seksual sangat penting. Masyarakat perlu memahami tanda-tanda pelecehan seksual, berani melaporkan kasus yang terjadi, dan memberikan dukungan kepada korban.

"Dengan upaya bersama, diharapkan kasus pelecehan seksual, terutama yang dilakukan oleh orang terdekat, dapat ditekan dan korban mendapatkan keadilan. Peran aktif semua pihak sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan melindungi anak-anak dari kekerasan seksual," pungkasnya. (PATHUR/H)