SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kerugian akibat tenggelamnya kapal wisata susur Sungai Mentaya milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) pada Selasa, 21 Januari 2025, ditaksir mencapai Rp800 juta. 

"Kerugian sekitar 800 juta terhitung dari barang tersebut," kata Wakil Bupati Kotim Irawati, Rabu, 22 Januari 2025.

Dirinya didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim Bima Eka Wardhana meninjau lokasi kejadian tenggelamnya kapal tersebut di samping dermaga Habaring Hurung, belakang Pasar PPM, Sampit.

Tenggelamnya kapal susur sungai tersebut akibat kebocoran lambung kapal yang parah dan sudah berulang-ulang ditambal. Hal itu mengakibatkan air masuk ke lambung kapal dan menyebabkan karam. 

Irawati menegaskan, kapal tersebut akan dilakukan pengangkatan. Namun saat ini pihaknya masih melakukan negosiasi harga dengan tim penyelam.

Dirinya mengaku prihatin atas insiden yang menimpa kapal ikonik tersebut. Ia menegaskan pentingnya evaluasi pengelolaan aset daerah untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

“Kejadian ini menunjukkan perlunya pengawasan dan perawatan yang lebih baik terhadap aset daerah, terutama yang menjadi ikon pariwisata. Kami akan mengevaluasi bersama dinas terkait,” ujar Irawati.

Adapun kapal yang tenggelam tersebut merupakan aset Pemkab Kotim yang dibangun pada 2010 untuk mendukung sektor pariwisata. Kapal ini menjadi salah satu ikon wisata susur Sungai Mentaya di Kota Sampit. Kapal yang sudah berusia lebih dari 20 tahun tersebut minim anggaran pemeliharaan.

"Memang kondisi kapal sudah tidak layak, sudah tua dengan usia 20 tahun lebih. Menurut Kepala Dinas Pariwisata anggaran pemeliharaan minim," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)