BORNEONEWS, Palangka Raya - Kota Palangka Raya masih banyak ditemukan permukiman di kawasan gambut. Dalam kesehariannya, masyarakat terus menggunakan sumber air rawa gambut yang belakangan ternyata memicu gangguan sakit pinggang. Ini akibat ketersediaan sumber air baku untuk konsumsi masih mengandalkan air gambut yang belum diolah.
Pemerintah selama ini, belum mampu memberikan teknologi yang murah kepada masyarakat, sehingga belum tersedia peralatan untuk membantu kondisi mereka. Walikota Palangka Raya melalui Asisten II, Gunawan Abel mengungkapkan saat Diskusi aplikasi teknologi sederhana pengolahan air gambut menjadi air bersih di PK2, Rabu (21/9/2016).
“Di Danau Tundai misalnya, kalau kita lihat kan warna airnya hitam tetapi bersih dan bening. Namun ternyata itu banyak mengandung zat yang berpengaruh ke kesehatan sebagai dampak mengonsummsi air di situ. Ada banyak masyarakat yang sakit pinggang dan ini kebanyakan, bukan satu dua orang saja,” kata Gunawan.
Setelah diteliti, lanjut dia, terungkap akibat kualitas air antara lain faktor derajat keasaman atau PH yang terlalu tinggi. Karena itu ia menilai perlu adanya teknologi yang membantu mengentaskan kondisi masyarakat tersebut.
Nah ternyata, lanjut Gunawan, ada yang berbeda dengan kawasan Kelurahan Kameloh Baru. Disana juga air gambut, bahkan sekilas fisiknya lebih jelek dari Danau Tundai. Tetapi ketika di bor ke dalam, justru kualitas airnya bagus dan layak konsumsi.
Hadirnya lembaga ilmu pengetahuan indonesia (LIPI) bekerjasama dengan pusat penelitian lingkungan hidup (PPLH) Unpar, diharapkan membantu menghadirkan aplikasi teknologi yang sederhana namun bisa dilakukan warga.
“Karena kadar asam tinggi, berpengaruh pada kesehatan masyarakat yang mengonsumsi air ini. Kegiatan ini ditujukan bagi masyarakat yang lingkungan airnya kurang bagus, sebagai pelatihan untuk mengolah air gambut menjadi air bersih yang layak konsumsi,” jelasnya
Gunawan menyebut kegiatan FGD yang menghadirkan LIPI dan PPLH ini bukan kegiatan Pemerintah kota (Pemkot) Palangka Raya. Pemkot hanya sebatas tuan rumah atau locus penelitian. “Mereka tim peneliti LIPI punya kegiatan sendiri kerjasama dengan PPLH Unpar. Kita hanya ketempatan atau penyedia lokasi saja. Jadi sangat membantu kita sebab kalau kita yang melaksanakan, tentu akan membutuhkan anggaran besar,” sebut Gunawan. (RZ)








