BORNEONEWS, Sampit - Sektor rotan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, menghadapi ancaman serius. Semakin banyak petani yang beralih ke perkebunan kelapa sawit karena dianggap lebih menguntungkan dan cepat menghasilkan.
H Dahlan Ismail, pengusaha rotan masih bertahan hingga saat ini mengakui penurunan drastis sektor ini sejak larangan ekspor rotan mentah pada akhir 2011.
"Banyak yang menebang rotan mereka dan menggantinya dengan menanam kelapa sawit. Ini tidak mungkin juga dilarang," katanya, Senin, 27 Januari 2025.
Dahlan, yang tetap bertahan di bisnis rotan dengan mengelola kebun sendiri dan membeli hasil panen petani untuk dijual ke Cirebon. Namun ia mengungkapkan bahwa telah banyak pengusaha rotan gulung tikar karena rotan menumpuk dan membusuk, karena tidak ada pembeli.
Hal tersebut membuat para pengusaha rotan mengurangi jumlah tenaga kerjanya. Ini juga terjadi pada dirinya. Jumlah pekerjanya kini menyusut dari lebih dari 200 orang menjadi hanya sekitar 60 orang.
--page
"Di tempat saya ini sekarang pekerjanya hanya sekitar 60 orang. Dulu lebih dari 200 orang. Larangan ekspor itu memang langsung berdampak," ujarnya.
Ia menyayangkan situasi ini, terutama karena rotan di Kotawaringin Timur merupakan hasil budidaya, bukan hasil hutan alami. Padahal menurutnya, hasil rotan masih cukup menjanjikan jika pemerintah membuat regulasi-regulasi yang lebih menguntungkan petani dan pelaku usaha rotan, misalnya membuka kembali keran ekspor rotan dengan sistem buka tutup atau menggunakan kuota.
Ia pun mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan kembali kebijakan ekspor rotan mentah. "Misalnya dengan sistem kuota atau buka-tutup, untuk mendukung keberlangsungan sektor ini. Karena mempertahankan kebun rotan berarti juga mempertahankan hutan, karena rotan tumbuh merambat pada pohon-pohon. Sistem budidaya rotan yang terencana memastikan keberlanjutannya," terangnya.
Selama ini, sektor rotan berjalan mandiri tanpa bantuan pemerintah, namun menyerap banyak tenaga kerja dan berkontribusi besar pada perekonomian masyarakat desa. Kini, kebun rotan semakin tergeser oleh perkebunan sawit, terutama di wilayah utara. Dahlan memperkirakan hanya sekitar 30% kebun rotan yang tersisa dibandingkan masa lalu.
Meski sawit lebih cepat panen dan menghasilkan lebih banyak secara ekonomi, khususnya dengan lahan lebih dari 5 hektar. "Padahal ada beberapa keuntungan juga memenam rotan. Rotan yang tidak dipanen akan terus tumbuh dan menghasilkan lebih banyak, tidak membutuhkan perawatan intensif, dan harganya saat ini cukup baik yaitu p 4.700/kg. Kami berharap pemerintah mengeluarkan regulasi yang mendukung kebangkitan sektor rotan dan kesejahteraan masyarakat," harapnya. (DEVIANA/Y)









