TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Pemerintah Desa Matabu di Kabupaten Barito Timur memanfaatkan lahan ketahanan pangan seluas 1,3 hektare untuk mengembangkan budidaya pisang kepok (Musa acuminata × balbisiana). Upaya ini bertujuan meningkatkan produktivitas pangan lokal sekaligus memberdayakan masyarakat.

Kepala Desa Matabu, Juni Setiawan, mengatakan, pihaknya telah menanam 400 bibit pisang kepok di lahan tersebut pada 2024. Tahun ini, mereka berencana menambah sekitar 250 pohon lagi untuk memanfaatkan sisa lahan yang masih tersedia.

"Pisang kepok dipilih karena perawatannya lebih murah dan bibitnya dapat diperoleh dari anakan pohon yang sudah tumbuh, sehingga biaya jangka panjang bisa ditekan," ujar Juni saat meninjau lokasi lahan ketahanan pangan, Selasa, 28 Januari 2025.

Juni menjelaskan, permintaan pasar terhadap pisang kepok cukup tinggi, terutama untuk bahan baku berbagai olahan makanan. Namun, Pemdes Matabu tidak hanya berencana menjual hasil panen dalam bentuk buah segar, tetapi juga akan mengolahnya menjadi produk seperti keripik pisang dengan melibatkan ibu-ibu PKK.

"Tujuan kami tidak hanya meningkatkan pendapatan desa, tetapi juga memberdayakan ibu-ibu melalui pengolahan hasil panen agar menciptakan nilai tambah," jelasnya.

--page

Meski demikian, pengembangan budidaya ini tidak lepas dari tantangan, seperti keterbatasan pupuk bersubsidi dan ancaman penyakit tanaman. Pemdes Matabu saat ini mengandalkan pupuk kandang untuk efisiensi, tetapi berharap ada pendampingan dari dinas terkait untuk mendukung keberhasilan program.

Selain budidaya pisang kepok, Pemdes Matabu juga merencanakan diversifikasi di lahan ketahanan pangan ini dengan menanam melon dan membudidayakan ikan pada 2025. 

Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan desa sekaligus memberikan alternatif sumber pendapatan bagi desa. (AGUSTINUS BOLE MALO/y)