BORNEONEWS, Sampit - Berbagai cara untuk mendapatkan balas kasihan masyarakat dilakukan oleh empat orang pengemis di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ini. Dimana salah satunya memanfaatkan anak mereka yang masih kecil untuk meminta-minta di sejumlah keramaian yang ada di daerah ini.
Hal tersebut terungkap pada saat Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan razia pada Kamis (22/9/2016). Dimana mereka berhasil menjaring empat orang pengemis dewasa, dan lima orang anak-anak yang dimanfaatkan orangtuanya tersebut.
“Ada sempbilan orang terjaring, yakni empat orang diwasa, lima anak-anak, dan satu masih bayi yang digendong oleh orangtuanya. Anak-anak itu dimanfaatkan orangtuanya untu mengemis, hal itu dilakukan untuk mencari simfatik orang lain,” ujar Kepala Dinsosnakertrans Kotim Bima Eka Wardana, Kamis (22/9/2016).
Sembilan pengemis itu terjaring di tiga tempat, yakni di sekitar Bintang Swalayan, Taman Kota Sampit, Ikon Kota Patung Jelawat, dan juga di Pusat Perbelnajaan Mentaya (PPM). Mereka semua todak dapat kabur, karena petugas dengan sigap menangkap, dan membawanya ke kantor Dinsosnakertrans, untuk dilakukan pendataan.
“Dari sembilan pengemis tersebut, mereka bukanlah warga asli Kotim, namun pendatang dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan juga Kabupaten Seruyan,” kata Eka.
Setelah didata dan diberikan pengarahan, semua pengemis itu langsung dipulangkan ke kampung halamnnya masing. Hal itu dilakukan agar mereka tidak lagi mengulangi perbuatannya.
Sementara itu, Eka juga meminta kepada masyarakat agar tidak ringan tangan kepada para pengemis tersebut. Hal itu dilakukan karena selama ini di Kota Sampit dianggap menjadi lahan basah bagi orang-orang tersebut. kalaupun mau memberikan sedekah, maka langsung kepada lembaga sosial, ataupun panti asuhan yang di daerah ini. Sehingga uang yang diberikan bisa lebih bermanfaat.
“Selama ini, pengemis tersbeut secara fisik mampu bekerja. Namun mereka lebih memilih jalan ringkas yang dianggap menguntungkan. Sehingga masyarakat jangan sampai memberi mereka sedekah,” ungkap Eka. (M HAMIM/m)








