PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Kue keranjang, hidangan wajib saat Tahun Baru Imlek, tak hanya menjadi primadona di meja makan keluarga Tionghoa di Palangka Raya, tetapi juga telah berhasil menembus pasar internasional.

Rumah Makan Singkawang di Jalan Bangka menjadi salah satu contoh suksesnya kuliner tradisional ini.

Proses pembuatan kue keranjang di Rumah Makan Singkawang cukup unik dan membutuhkan kesabaran.

Kue yang terbuat dari ketan dan gula putih ini dimasak selama 12 jam penuh menggunakan kayu bakar, menghasilkan warna cokelat khas yang menarik selera.

Ling Ling, pemilik Rumah Makan Singkawang, mengungkapkan peningkatan penjualan kue keranjang tahun ini sangat signifikan. Yang lebih mengejutkan, ia menerima pesanan dari luar negeri, termasuk Taiwan dan Hongkong.

"Pesanan sudah masuk sejak sebulan yang lalu, bahkan ada yang sudah memesan sejak tahun lalu," ujarnya, Rabu, 29 Januari 2025.

Selain pasar internasional, kue keranjang juga dikirim ke berbagai kota di Indonesia, seperti Banjarmasin, Sampit, dan Jakarta.

Ling Ling mampu memproduksi hingga 60 kilogram kue keranjang setiap harinya. Harga jualnya pun relatif terjangkau, mulai dari Rp 35.000 untuk setengah kilogram dan Rp 65.000 untuk satu kilogram.

Kenaikan penjualan ini menunjukkan tingginya permintaan dan popularitas kue keranjang, bahkan di pasar global. Hal ini membuktikan potensi kuliner tradisional Indonesia untuk bersaing di kancah internasional.

"Saya berharap momen Imlek tahun ini dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk mendukung perekonomian lokal dan meningkatkan toleransi antar budaya," pungkasnya. (PATHUR/r)