BORNEONEWS, Bandung -- Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016 Jawa Barat menjadi momentum kebahagiaan tersendiri bagi cabang olahraga panahan.
Berangkat dari keterpurukan dua PON yang diikuti Sapriatno baik PON Kaltim 2008 dan PON Riau 2012 di mana tak ada medali berarti yang diraih. Ternyata PON Jabar di tanah legenda membawa berkah tersendiri bagi Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (Perpani ) Kalteng. Terlebih bagi yang bersangkutan dari banyak nomor-nomor yang diikuti memang diandalkan, seperti individual recurve dan recurve mix, ternyata satu nomor paling bergengsi dari nomor coumpound berhasil masuk final. Satu diantaranya Sapriatno berhasil meraih medali emas di jarak 50 meter individual perorangan coumpund, Kamis (22/9).
Ditemui usai pertandingan di lapangan panahan Jalak Harupat wartawan Palangka Post (group Borneonews) mewancarai ayah dua anak ini. Berikut petikan wawancaranya.
Kami ucapkan selamat, sudah meraih 1 medali emas untuk Kalteng. Bagaimana perasaan anda?
Puji syukur kepada Tuhan, saya senang sekali mendapat medali emas karena berbarengan dengan hari ulang tahun ke 31. Anggap saja kado istimewa buat diri pribadi dan masyarakat Kalteng pada umumnya telah mendoakan kami berlaga di PON.
Apa memang hasil di PON ini sudah sesuai dengan target awal?
Ya, ini sesuai target yang dibebankan pelatih agar meraih emas. Karena nomor yang terakhir diikuti oleh panahan melaju ke babak final. Sebagai pemanah terakhir mencoba realistis mewujudkan itu ternyata berhasil. Terlebih dari dua PON yang diikuti Kaltim 2008 saya hanya meraih perunggu dan PON 2012 Riau tidak memperoleh apa-apa. Jadi semangat sangat tinggi harus bisa. Kapan lagi mendapat medali tertinggi.
Walaupun kali di cabang panahan sering kali terjadi kejutan, kadangkala atlet yang pernah bertanding di olimpiade bisa kalah sama juniornya. Terlebih bila saya kalah malu besar karena lawan lebih junior di pelatihan pemusatan nasional (Pelatnas).
PON membawa nama gengsi daerah. Dilihat ribuan orang, setiap provinsi memberikan semangat kepada atlet untuk bertanding. Kalau ada rasa tegang, gugup, keluar keringat dingin wajar sekali.
Untuk siapa 1 medali emas ini anda persembahkan?
Terimakasih. Tentu untuk banyak pihak yang sudah membantu saya berprestasi, mulai dari pengurus, pelatih, dan teman-teman semua. Teristimewa untuk istri, dua anak saya juga kedua orangtua dan keluarga yang terus memberikan support pada saya, mulai dari awal menggeluti hobi memanah hingga 15 tahun silam hingga mengikuti PON sekarang.
Bagaimana awal ketertarikan anda dengan olahraga panahan?
Awalnya diajak kawan-kawan dulu ikut latihan . Awalnya juga hanya coba-coba, tidak pernah terpikirkan bisa mewakili daerah, apalagi di event nasional seperti sekarang. Lama-lama suka juga. Dari situ kemudian termotivasi untuk tidak sekedar ikut-ikutan, tapi juga berprestasi.
Apa target anda ke depan?
Setelah ini kembali pulang ke Kabupaten Lamandau untuk kembali mengajar di sekolah di SMP saya coba fokus lagi sebagai guru.
BIODATA
Nama: Sapriatno (31)
TTL: Bukit Bamba, Pulang Pisau, 19 September 1985
Keluarga
Istri: Yansina
Anak: Citra (8 tahun), Kenzo (1,5 tahun)
Orangtua
Ayah: Philipus
Ibu: Meri M Nagan








