KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Kanker serviks sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga sulit terdeteksi. Dalam program edukasi kesehatan yang disampaikan Tim Promkes RSUD dr H Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas, dr. Erny Indrawati menjelaskan bahwa sekitar 76 persen kasus kanker serviks tidak memiliki gejala hingga stadium lanjut.

"Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain keputihan yang tidak biasa, perdarahan tidak normal di luar siklus menstruasi, nyeri saat berhubungan intim, siklus haid tidak teratur, serta tubuh yang mudah lelah akibat anemia," katanya, Jumat, 31 Januari 2025.

Selain itu, ada juga gejala yang mengarah pada kondisi yang lebih serius, seperti sering buang air kecil, bercak darah dalam urine, dan pembengkakan di salah satu tungkai akibat penyebaran kanker ke kelenjar getah bening. 

"Karena proses perkembangan kanker serviks dari infeksi HPV hingga munculnya gejala bisa memakan waktu 10 hingga 20 tahun, pemeriksaan rutin sangat disarankan," ujarnya.

Terdapat beberapa metode deteksi dini kanker serviks, di antaranya pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat), mengoleskan asam asetat pada leher rahim untuk melihat adanya perubahan sel, metode pap smear.

--page

Mengambil sampel sel dari serviks untuk diuji di laboratorium, disarankan dilakukan setiap 3 tahun bagi perempuan berusia 21 tahun ke atas.

Lalu, Tes HPV: Memeriksa keberadaan virus HPV di leher rahim, dianjurkan untuk perempuan berusia 30–65 tahun setiap 5 tahun sekali.

Biopsi, dilakukan jika hasil pemeriksaan awal menunjukkan indikasi kanker untuk memastikan diagnosis lebih lanjut. "Kanker serviks dapat disembuhkan jika terdeteksi sejak dini. Oleh karena itu, jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan skrining secara rutin," ucapnya. (DODI/Y)