BORNEONEWS, Sampit – Anggota DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Sihol Parningotan Lumban Gaol, mengusulkan agar rumah-rumah warga yang berada di sepanjang bantaran sungai direlokasi ke tempat yang lebih layak. Usulan ini disampaikan menyusul dua kebakaran yang terjadi dalam sehari di Sampit, yang menghanguskan sembilan rumah warga di kawasan padat penduduk.
Menurut Sihol, pemukiman di bantaran sungai tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran tetapi juga berdampak pada kesehatan warga dan lingkungan. Jika memungkinkan dan masyarakat bersedia, relokasi ke daerah yang lebih aman dan representatif bisa menjadi solusi jangka panjang.
"Kami berharap rumah-rumah di bantaran sungai bisa direlokasi ke daratan yang lebih layak sebagai hunian jangka panjang. Dengan demikian, bantaran sungai bisa dikosongkan dan dijadikan area terbuka hijau. Kami melihat bahwa pendirian rumah di sepanjang bantaran sungai kurang sehat bagi penghuni, terutama di masa mendatang ketika sungai semakin sulit dibersihkan," kata Gaol, Jumat, 31 Januari 2025.
Salah satu kejadian kebakaran hari ini terjadi di Kompleks Kamar 20, Kelurahan Sawahan, dekat Pasar Keramat. Empat rumah warga ludes terbakar, diduga akibat ledakan tabung gas elpiji.
Lokasi ini merupakan kawasan padat penduduk yang berada di bantaran sungai. Bangunan yang terbuat dari kayu membuat api dengan cepat menyebar.
--page
Lanjutnya, DPRD Kotim selaku wakil rakyat siap mendorong pemerintah untuk segera menindaklanjuti usulan tersebut jika masyarakat bersedia direlokasi. Dirinya pun menegaskan bahwa relokasi ini tidak akan dilakukan secara paksa, melainkan dengan mempertimbangkan kesiapan dan kesediaan masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi kebakaran. Kecerobohan dalam penggunaan kompor, kebocoran gas elpiji, dan kelalaian dalam pemeliharaan instalasi listrik menjadi penyebab utama kebakaran yang sering terjadi di Sampit.
"Kelalaian satu orang bisa berdampak luas bagi banyak orang. Oleh karena itu, masyarakat harus lebih berhati-hati, terutama dalam penggunaan kompor dan listrik. Penggunaan kabel dan colokan listrik yang tidak standar juga menjadi faktor utama penyebab kebakaran," tambahnya.
Ia juga mengingatkan warga untuk tidak meninggalkan rumah dengan peralatan listrik yang masih menyala serta rutin memeriksa instalasi listrik, terutama di rumah berbahan kayu yang lebih rentan terbakar.
"Tentunya kami juga menyampaikan belasungkawa kepada para korban kebakaran dan berharap pemerintah segera memberikan bantuan yang dibutuhkan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang," tandasnya.
Sebelumnya, dua kebakaran terjadi di Sampit dalam satu hari, Jumat, 31 Januari 2025, menghanguskan sembilan rumah warga di dua lokasi berbeda.
Kebakaran pertama terjadi di Kompleks Kamar 20, Kelurahan Sawahan, dekat Pasar Keramat. Kebakaran ini menghanguskan empat rumah warga dan diduga disebabkan oleh ledakan tabung gas elpiji. Lokasi tersebut berada di bantaran sungai yang padat penduduk, sehingga api dengan cepat menyebar ke rumah-rumah sekitar.
Tak berselang lama, kebakaran kedua terjadi di Jalan Muchran Ali, Gang Delima Kuning, Kecamatan Baamang, sekitar pukul 10.00 WIB. Kebakaran ini diduga disebabkan oleh korsleting listrik, yang juga menghanguskan lima rumah warga. Material bangunan yang mayoritas berbahan kayu membuat api cepat merambat dan sulit dipadamkan. (DEWI PATMALASARI/Y)









