BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada Januari 2025, Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 0,28 persen. Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyampaikan bahwa beberapa kelompok pengeluaran memberikan andil terhadap inflasi ini. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar sebesar 1,16 persen. Selain itu, kelompok pakaian dan alas kaki menyumbang 0,03 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,02 persen, serta kelompok kesehatan sebesar 0,04 persen.
Agnes Widiastuti juga menjelaskan bahwa kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen. Kelompok pendidikan menyumbang 0,08 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,21 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,31 persen.
"Kenaikan harga pada kelompok-kelompok ini menjadi faktor utama terjadinya inflasi di Kalimantan Tengah pada Januari 2025," ujar Agnes pada Senin, 3 Februari 2025.
Hal ini disampaikan Agnes saat menyampaikan berita resmi statistik bulanan dengan didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan atau Ekbang Setda Provinsi Kalteng, Sri Widanarni.
"Di sisi lain, terdapat kelompok pengeluaran yang memberikan andil deflasi y-on-y. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat deflasi sebesar 1,55 persen. Kelompok transportasi juga memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen. Penurunan harga pada kelompok-kelompok ini membantu menekan laju inflasi di Kalimantan Tengah," tambah Agnes.
--page
Agnes Widiastuti menekankan pentingnya pemantauan harga secara berkala untuk menjaga stabilitas ekonomi di Kalimantan Tengah.
"BPS terus melakukan pemantauan harga di berbagai kabupaten/kota untuk memastikan data yang akurat dan dapat diandalkan," jelasnya.
Selain itu, Agnes mengungkapkan bahwa inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kapuas sebesar 0,97 persen, sementara deflasi tertinggi tercatat di Kota Palangka Raya sebesar 0,15 persen.
"Perbedaan tingkat inflasi antar daerah menunjukkan adanya variasi dalam pola konsumsi dan harga di masing-masing wilayah," kata Agnes.
Dengan demikian, BPS Kalimantan Tengah akan terus berupaya memberikan informasi yang akurat dan relevan kepada masyarakat serta pemerintah daerah.
"Kami berharap data yang kami sajikan dapat menjadi acuan dalam pengambilan kebijakan ekonomi yang lebih baik," tutur Agnes Widiastuti. (TESTI PRISCILLA/Y)









