SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Peningkatan kewaspadaan ini dipicu oleh berkurangnya intensitas hujan dan terpantaunya tiga titik panas (hotspot) di wilayah tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam K Anwar menyatakan bahwa pada Senin sore pukul 16.00 WIB, terdeteksi tiga titik panas di tiga kecamatan berbeda.  

"Titik panas itu terdeteksi di Desa Jaya Karet Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Desa Tanjung Jariangau Kecamatan Mentaya Hulu dan Desa Palangan Kecamatan Kota Besi.  Informasi mengenai titik panas ini telah didistribusikan ke satuan kecamatan setempat, dan tim lapangan sedang melakukan pengecekan," katanya, Senin, 3 Februari 2025.

Multazam menduga munculnya titik panas disebabkan oleh cuaca panas yang melanda Kotim dalam dua hingga tiga hari terakhir.  Berkurangnya curah hujan dinilai sebagai faktor utama yang meningkatkan risiko karhutla.

Berdasarkan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, kondisi cuaca saat ini dipengaruhi oleh gangguan cuaca regional.  Keberadaan dua siklon tropis, TC Vince dan TC Taliah, di wilayah selatan Benua Maritim Indonesia (BMI) menyebabkan konsentrasi massa udara terpusat ke arah siklon tersebut.  Akibatnya, pertumbuhan awan hujan di Kotim berkurang, dan kecepatan angin meningkat.

"Kondisi ini perlu menjadi perhatian kita bersama untuk mengantisipasi dampaknya.  BPBD Kotim akan terus memantau perkembangan situasi dan meningkatkan kesiapsiagaan untuk mencegah dan menanggulangi potensi karhutla.  Masyarakat diimbau untuk waspada dan turut berperan aktif dalam menjaga lingkungan agar terhindar dari kebakaran," ucapnya. (DEVIANA/H)