BORNEONEWS, Sampit – Ketua Komisi III DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Dadang Siswanto, menyoroti tantangan yang dihadapi tenaga kerja lokal dalam berkarir di perusahaan besar di wilayah tersebut.
Salah satu kendala utama adalah penyesuaian budaya kerja serta rendahnya kemampuan akademik, yang menghambat mereka dalam bersaing untuk posisi strategis di sektor swasta. Hal ini terungkap dalam kunjungan kerja DPRD Kotim bersama sejumlah instansi ke beberapa perusahaan besar di Kotim.
"Dari hasil tinjauan, ditemukan masih ada tenaga kerja lokal yang enggan meningkatkan keterampilan dan pendidikan mereka. Bahkan, dalam beberapa kasus, ada yang beranggapan bahwa peningkatan sumber daya manusia (SDM) tidak diperlukan karena perusahaan berdiri di tanah leluhur mereka," ujar Dadang, Rabu, 5 Februari 2025.
Peran dunia usaha dalam meningkatkan kualitas SDM tenaga kerja lokal. Dengan adanya program pemberdayaan, diharapkan masyarakat lokal tidak hanya terserap sebagai pekerja, tetapi juga bisa menempati posisi strategis dalam perusahaan di Kotim.
Komisi III DPRD Kotim juga meninjau pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di pelabuhan bulking milik Wilmar Nabati di Pelabuhan Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, beberapa waktu lalu.
Dalam kunjungan tersebut, DPRD melihat bahwa program bulan K3 berjalan dengan baik, termasuk pemeriksaan kesehatan bagi para pekerja.
Di perusahaan tersebut, tenaga kerja lokal telah diberdayakan sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) setempat, yang mengharuskan minimal 60 persen pekerja berasal dari daerah sekitar.
Human Resource Development Wilmar Nabati wilayah Bagendang, David Hamzah, menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk memberdayakan tenaga kerja lokal.
"Kami sudah merekrut dan memberdayakan lebih dari 60 persen tenaga kerja lokal. Saat ini, sekitar 50 orang yang bekerja di pelabuhan ini adalah warga sekitar," ujar David.
Namun, ia juga menegaskan bahwa Wilmar Nabati hanya menerima tenaga kerja dengan kualifikasi minimal diploma dan sarjana. Hal ini bertujuan agar mereka memiliki peluang karir yang lebih baik di masa depan.
"Kami ingin tenaga kerja lokal bisa berkembang. Dengan minimal diploma dan sarjana, mereka bisa naik jenjang karir, misalnya dari mandor ke level yang lebih tinggi," katanya. (DEWI PATMALASARI/j)









