BORNEONEWS, Palangka Raya - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmat) Kota Palangka Raya mencatat peningkatan signifikan dalam permintaan evakuasi hewan liar, terutama ular, yang masuk ke pemukiman warga.
Sejak awal Januari hingga 4 Februari 2025, tercatat delapan kejadian ular masuk rumah warga, sebuah angka yang mengkhawatirkan bagi petugas dan masyarakat.
Peningkatan ini dikaitkan dengan musim hujan yang sedang berlangsung dan kerusakan habitat hewan liar.
Hujan deras menyebabkan hewan-hewan tersebut terpaksa meninggalkan habitat aslinya untuk mencari tempat kering dan aman. Kerusakan habitat akibat aktivitas manusia juga menjadi faktor yang memperparah situasi ini.
Ari Sanang, Operator Call Center Layanan Panggil Darurat 112 Diskarmat Palangka Raya, menjelaskan bahwa sebagian besar laporan evakuasi hewan liar berasal dari warga Kecamatan Jekan Raya.
"Peningkatan permintaan evakuasi hewan liar ini salah satunya disebabkan pengaruh musim hujan," ungkap Ari Sanang pada Rabu, 5 Februari 2025.
Selain ular, Diskarmat Palangka Raya juga menerima laporan evakuasi sarang tawon. Hingga 4 Februari 2025, tercatat hampir 11 laporan terkait sarang tawon yang membahayakan warga.
Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas hewan liar tidak hanya terbatas pada ular, tetapi juga jenis hewan lain yang berpotensi membahayakan.
Setelah dievakuasi, hewan-hewan liar tersebut diamankan di kantor Diskarmat sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat yang jauh dari pemukiman warga.
Petugas Diskarmat memastikan proses pelepasliaran dilakukan dengan aman dan bertanggung jawab, untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Diskarmat Palangka Raya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan segera menghubungi Call Center 112 jika menemukan hewan liar yang membahayakan di sekitar pemukiman.
"Kerjasama antara masyarakat dan petugas Diskarmat sangat penting untuk meminimalisir risiko dan menjaga keselamatan bersama," pungkasnya. (PATHUR/R)









