TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Rutan Kelas IIB Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, menggelar peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1446 Hijriah di Masjid Al-Akbar Rutan, Rabu, 5 Februari 2025.

Acara ini menjadi lebih dari sekadar seremonial keagamaan, melainkan momentum refleksi diri bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala Rutan Tamiang Layang, Arief Budi Prasetya, jajaran pejabat struktural, serta pegawai baik Jabatan Fungsional Tertentu (JFT) maupun Jabatan Fungsional Umum (JFU). Seluruh WBP yang beragama Islam juga turut berpartisipasi dengan antusias.

Dalam sambutannya, Arief Budi Prasetya menegaskan bahwa peringatan Isra Mikraj bukan hanya kegiatan rutin tahunan. Selain itu, ia mengajak seluruh WBP menjadikan momen ini sebagai refleksi untuk memperbaiki diri.

“Peringatan Isra Mikraj ini bukan sekadar seremoni, tapi harus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan kita dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala melalui salat lima waktu. Kita juga bisa meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Arief.

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan saritilawah yang dibawakan secara bergantian oleh Taufikkur Rahman, staf Subseksi Pelayanan Tahanan, serta beberapa WBP. 

Suasana penuh khidmat semakin terasa ketika Ustaz Muhamad Halimi dari Kementerian Agama Kabupaten Barito Timur menyampaikan ceramah agama.

Dalam tausiyah bertema “Menjadikan Isra Mikraj Momentum Transformasi Menjadi Pribadi yang Lebih Baik”, Ustaz Halimi menekankan pentingnya memahami esensi perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW sebagai pelajaran berharga untuk kehidupan sehari-hari.

“Isra Mikraj mengajarkan kita tentang pentingnya salat sebagai tiang agama. Salat bukan sekadar kewajiban, tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki diri. Bagi saudara-saudara di sini, ini adalah kesempatan untuk introspeksi, memperbaiki kesalahan masa lalu, dan mempersiapkan diri menjadi insan yang lebih baik saat kembali ke masyarakat,” tutur Ustaz Halimi.

Ia juga memberikan motivasi kepada WBP agar tidak larut dalam penyesalan, melainkan menjadikan masa binaan sebagai waktu berharga untuk bertumbuh. 

“Jangan pernah merasa masa depan sudah tertutup. Setiap orang punya kesempatan kedua untuk memperbaiki hidupnya. Manfaatkan waktu di sini untuk belajar, merenung, dan memperbaiki diri,” tambahnya.

Salah satu WBP mengaku merasa tersentuh dengan ceramah yang disampaikan. 

“Saya jadi sadar, meskipun berada di tempat ini, saya masih bisa berubah menjadi orang yang lebih baik. Semoga setelah bebas nanti, saya bisa menjadi pribadi yang lebih bermanfaat untuk keluarga dan masyarakat,” ujarnya penuh harap.

Kegiatan diakhiri dengan doa bersama untuk memohon keberkahan, ampunan, dan kekuatan dalam menjalani kehidupan. Momen ini diharapkan menjadi titik awal perubahan positif bagi para WBP, tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam sikap dan perilaku sehari-hari. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)