BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kasus perundungan yang dilakukan oleh seorang remaja puteri, pelajar SMP, terhadap rekannya di Kabupaten Barito Timur berakhir damai, setelah dimediasi oleh pemerintah daerah bersama berbagai pihak terkait, Jumat, 7 Februari 2025.
Peristiwa perundungan tersebut terjadi di RTH Taman Nansarunai, Tamiang Layang, pada Rabu, 5 Februari 2025. Namun, video kejadian baru viral pada Jumat pagi, memicu perhatian publik lantaran menampilkan kekerasan fisik maupun verbal.
Menanggapi hal itu, Dinas Pendidikan Barito Timur, Polres Barito Timur, Kodim 1012 Buntok, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Barito Timur, Diskominfops Barito Timur, Forum PUSPA, serta pihak sekolah bergerak cepat untuk menyelesaikan kasus tersebut melalui mediasi.
Asisten I Setda Barito Timur, Ari Panan P Lelu, menjelaskan bahwa begitu mengetahui kejadian ini, pihaknya segera berkoordinasi dengan Pj. Bupati Barito Timur dan menghubungi dinas terkait, kepolisian, TNI, sekolah, serta orang tua pelajar yang bersangkutan.
"Mulai pukul 13.00 WIB, kami semua berkumpul membahas masalah ini. Setelah melalui mediasi, kedua belah pihak, baik anak maupun orang tua, sepakat menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan dan tidak memperpanjangnya," ujar Ari Panan usai mediasi.
Dia melanjutkan, meski kasus telah diselesaikan, anak-anak yang terlibat akan tetap mendapatkan pendampingan psikologis dari DP3AKB.
"Pendampingan akan terus dilakukan agar mereka dapat memulihkan kepribadian dan menyelesaikan persoalan dengan baik," tambahnya.
Ari Panan juga mengingatkan pihak sekolah, terutama dewan guru dan orang tua, agar lebih aktif dalam membimbing anak-anak untuk berperilaku baik. Ia meminta Dinas Pendidikan, DP3AKB, serta Satpol PP turut memantau lingkungan sekolah guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
"Kita tidak bisa mengawasi anak-anak selama 24 jam. Oleh karena itu, peran orang tua dan sekolah sangat penting dalam menjaga mereka, karena mereka adalah generasi penerus kita," tegasnya.
Kepala Dinas Pendidikan Barito Timur, Sabai, menyatakan bersyukur karena kedua belah pihak mencapai kesepakatan damai.
Dia menyesalkan adanya kasus tersebut karena selama ini dinas pendidikan secara rutin telah memberikan penyuluhan di sekolah-sekolah untuk mencegah tindak kekerasan di lingkungan pendidikan.
"Kami sudah beberapa kali mengunjungi sekolah dan menyampaikan pentingnya menghindari perundungan. Ke depan, kami akan lebih meningkatkan sosialisasi agar kasus seperti ini tidak terulang," katanya.
Sabai memastikan bahwa pihaknya bersama DP3AKB akan terus memberikan pendampingan psikologis kepada korban maupun pelaku.
"Meski sudah berdamai, kami tetap akan mendampingi mereka agar dapat pulih sepenuhnya," pungkasnya. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)









