BORNEONEWS, Sampit – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Multazam K Anwar menegaskan bahwa kerusakan ekosistem sungai menjadi salah satu penyebab utama banjir.
"Kebiasaan buruk manusia yang merusak ekosistem sungai dan daerah resapan air menjadi penyebab utamanya," katanya, Senin, 10 Februari 2025.
Ia mencontohkan pendangkalan sungai yang bukan semata-mata karena proses alami. Aktivitas seperti pembukaan lahan tanpa memperhatikan dampaknya bisa menyebabkan tanah terbawa arus, lalu mengendap di sungai.
Akibatnya, daya tampung sungai berkurang, dan air lebih mudah meluap saat hujan deras. Lebih lanjut, Multazam menyoroti masalah sampah yang memperparah kondisi sungai.
"Banyak yang masih membuang limbah rumah tangga langsung ke sungai tanpa berpikir panjang. Jika dibiarkan terus-menerus, hal ini akan menjadi bom waktu yang memicu banjir semakin parah di musim hujan," tambahnya.
BPBD Kotim mengimbau warga, terutama yang tinggal di daerah rendah atau dekat dengan sungai, untuk selalu siaga menghadapi potensi banjir. Pasalnya, banjir tidak selalu terjadi akibat hujan lokal, tetapi juga bisa berasal dari air kiriman dari hulu sungai.
"Kadang kita merasa aman karena di sekitar kita tidak turun hujan, tapi air dari daerah lain bisa tiba-tiba datang dan menggenangi pemukiman. Oleh karena itu, penting untuk selalu memperhatikan kondisi debit air dan segera mengambil langkah antisipasi jika terjadi peningkatan signifikan," tutupnya. (DEVIANA/R)









