BORNEONEWS, Pulang Pisau - Peternak Budidaya lebah madu kelulut mengungkapkan sulitnya memasarkan madu, bahkan sebagian peternak tak lagi jadikan pekerjaan utama.
Salah satunya Erna Peternak lebah madu kelulut asal Desa Henda menyampaikan jika usaha budidaya lebah madu kelulut bisa mendatangkan hasil yang menjanjikan, namun kesulitan memasarkan hasil menjadi kendala yang dihadapi saat ini.
"Untuk penjualannya masih sulit, karena di Kalteng ini tersaingi madu hutan. Untuk pembelinya itu biasanya sebagai oleh-oleh ke Jawa. Saya harapkan pemasaran madu kelulut ini tidak sulit, sehingga bisa menjual madunya dan merasakan hasilnya. " kata Erna, Selasa (11/2/2025).
Sebelumnya usaha madu kelulut, dikelola secara kelompok, tapi karena pemasarannya sulit sehingga bubar dan ia kelola sendiri. Menurut Erna apabila sudah ada pasarnya, ia bisa menyiapkan madunya.
Erna jelaskan pakan bagi lebah biasanya dari bunga matahari, namun di tempat budidaya miliknya, makanannya bunga sawit, bunga jantung pisang dan bunga pohon getah.
Hasilnya madunya tergantung dari pakan, apabila yang serap bunga yang pahit seperti pare, maka madu yang dihasilkan juga ada rasa pahitnya.
"Kalau di Jawa biasanya bunga matahari itu makanan mereka. Walaupun disini tidak ada, tapi tetap ada makanan dari bunga lain," ujar Erna
Selain madu, ada juga polen, digunakan untuk bahan pembuatan obat tradisional, rasanya masam dan pahit. Rasanya tergantung dari bunga yang diserap, baik polen maupun madunya.Kemudian saat hujan, banyak kadar airnya.
"Kalau diurus baik-baik, dua Minggu bisa panen, dalam satu stop atau tempatnya ya itu bisa stenga liter. Tergantung pakannya, biasanya dalam satu stop itu bisa sampai 1,5 liter sekali panen.
Sebelumnya usahanya ini mendapatkan bantuan dari dari Dinas kehutanan Provinsi Kalteng daan BPSKL Kalsel.( RETHA/R)









