BORNEONEWS, Sampit – Potensi industri kerajinan rotan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih terkendala oleh minimnya minat warga untuk menekuni profesi tersebut.
"Ini bukan soal kemampuan, tapi etos kerjanya. Kurang berminat. Mungkin karena masih banyak pilihan profesi lain, makanya tidak banyak yang tertarik secara serius menjadi perajin rotan," kata Haji Dahlan Ismail, seorang pengusaha rotan di Kecamatan Kota Besi, Rabu, 13 Februari 2025.
Dahlan menyatakan bahwa potensi sektor rotan di Kotim cukup besar. Tidak hanya hasil berupa rotan mentah, tetapi juga potensi industri kerajinan rotan untuk menghasilkan barang jadi.
“Salah satu kendala yang dihadapi untuk pengembangan kerajinan rotan skala besar adalah rendahnya minat warga untuk secara serius menggeluti profesi tersebut. Hal ini tentu berpengaruh terhadap hasil produksi dan keberlanjutan produksi dan usaha kerajinan," jelasnya.
Dahlan membeberkan pengalamannya sendiri beberapa tahun lalu. Ia pernah membuka industri kerajinan rotan dengan mendatangkan mesin dan tenaga instruktur dari luar daerah, namun usahanya tidak berjalan lancar. Hanya sedikit warga yang bertahan menjadi perajin rotan, selebihnya berhenti dan memilih beralih ke profesi lain; membuat Dahlan akhirnya menghentikan usaha kerajinan rotan tersebut.
"Tidak bisa dipaksakan. Kondisi di daerah kita berbeda dengan di daerah lain seperti di Jawa. Di sana mungkin lebih mudah mendapatkan pekerja yang serius mau menggeluti profesi menjadi perajin rotan," ujarnya.
Sejauh ini, kata Dahlan, pelaku usaha rotan di Kotim hanya menjual rotan mentah ke industri di luar daerah, khususnya Cirebon. Hanya sebagian yang mengolahnya menjadi bahan jadi dan dijual ke pasaran lokal.
Menurut Dahlan, perlu dukungan pemerintah untuk membina dan memfasilitasi agar pemasaran produk rotan terserap di pasaran sehingga industri hilir ini terus meningkat, dan semakin banyak pula warga yang tertarik untuk menggeluti usaha kerajinan rotan.
"Soal kualitas, rotan Sampit atau rotan Kotawaringin Timur ini diakui bagus, bahkan dikatakan terbaik di dunia. Makanya dulu sangat laris di pasaran ekspor," katanya.
Kotawaringin Timur merupakan salah satu daerah penghasil rotan di Kalimantan Tengah. Sektor ini kemudian meredup setelah pemerintah melarang ekspor rotan mentah sejak akhir 2011.
Kini, Dahlan dan pengusaha rotan lainnya hanya mengandalkan pemasaran ke industri rotan dalam negeri, khususnya Cirebon.
"Kami masih berharap keran ekspor rotan kembali dibuka, misalnya dengan sistem buka tutup maupun kuota ekspor agar sektor rotan kembali bangkit," harapnya. (DEVIANA/j)









