PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Seorang guru perempuan asal Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah (Kalteng), berinisial B (45), menjadi korban ancaman penyebaran video syur setelah melakukan video call sex (VCS) dengan seseorang yang dikenalnya melalui Facebook.

Pelaku mengancam akan menyebarkan video tersebut jika B tidak mengirimkan uang sebesar Rp 20 juta. Beruntung, korban kemudian melapor ke Virtual Police Polda Kalteng dan pelaku berhasil dihentikan.

B berkenalan dengan pelaku melalui akun Facebook palsu yang menggunakan foto seorang anggota TNI. Setelah perkenalan singkat, pelaku merayu B untuk menjalin hubungan pacaran online dan akhirnya melakukan VCS.

Namun, setelah VCS, pelaku meminta uang tebusan sebesar Rp 20 juta dengan ancaman akan menyebarkan video tersebut ke sekolah dan lingkungan B.

Korban yang ketakutan kemudian menceritakan kejadian tersebut kepada Ipda Shamsuddin, Ketua Tim Virtual Police Bidhumas Polda Kalteng yang akrab disapa Cak Sam, melalui pesan WhatsApp. B mengaku merasa terhipnotis dan tidak menyadari tindakannya hingga akhirnya terjebak dalam ancaman pelaku.

"Saya pikir orang baik, tapi sepertinya saya terhipnotis," curhat B kepada Cak Sam, Kamis, 13 Februari 2025.

Pelaku yang berlokasi di Sumatera Selatan menggunakan modus operandi dengan mengaku bahwa gawainya akan dirazia dan video porno B akan ditemukan.

Untuk menghindari pemberitaan media, pelaku meminta uang tutup mulut. Modus ini cukup licik dan memanfaatkan situasi untuk melakukan pemerasan.

Setelah menerima laporan, Cak Sam langsung menghubungi pelaku dan memberikan peringatan serta pembinaan. Pelaku akhirnya menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan menyebarkan video tersebut serta menghapusnya.

Tindakan tegas Virtual Police Polda Kalteng ini berhasil mencegah penyebaran video syur dan melindungi korban dari ancaman lebih lanjut.

Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya berhati-hati dalam berinteraksi di media sosial, khususnya dalam menjalin hubungan online.

"Penggunaan akun palsu dan modus operandi yang licik perlu diwaspadai," pungkasnya. (PATHUR/H)