BORNEONEWS, Palangka Raya - Perkembangan industri minyak sawit telah mengubah dinamika pasar minyak nabati dunia secara revolusioner.
Kini, minyak sawit mendominasi konsumsi global, mengungguli tiga minyak nabati utama lainnya seperti minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari.
Namun, meski menjadi pemimpin pasar, industri ini tak lepas dari berbagai upaya pembatasan perdagangan oleh banyak negara, termasuk Uni Eropa, yang menyoroti isu-isu kesehatan sejak tahun 1970-an hingga isu lingkungan yang mengemuka sejak tahun 2016.
"Isu lingkungan, khususnya terkait emisi global dan deforestasi, sering kali digunakan untuk mengkritik industri sawit. Perkebunan sawit kerap dituding menjadi penyebab utama deforestasi yang merusak ekosistem hutan. Namun, apakah tuduhan ini benar. Data terbaru menunjukkan fakta yang berbeda," kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP Kelapa Sawit, Eddy Abdurrachman pada Sabtu, 15 Februari 2025.
Menurut potret citra satelit yang dirilis oleh Badan Planologi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada tahun 2013, dari total 10,4 juta hektare kebun sawit di Indonesia, sekitar 7,9 juta hektare di antaranya merupakan hasil dari reforestasi.
Lahan ini sebelumnya adalah lahan pertanian, lahan terlantar, semak belukar, dan hutan tanaman industri atau HTI yang kemudian dikonversi menjadi perkebunan sawit. Hanya sekitar 2,5 juta hektare yang berasal dari deforestasi atau konversi hutan produksi.
"Secara netto, perkebunan sawit Indonesia lebih banyak melibatkan proses reforestasi daripada deforestasi. Artinya, mayoritas perkebunan sawit di Indonesia merupakan hasil dari upaya reforestasi, bukan penggundulan hutan," katanya.
Fakta ini menurut Eddy menunjukkan bahwa industri sawit di Indonesia tidak selalu identik dengan deforestasi, sebagaimana yang sering disampaikan dalam kampanye negatif di berbagai forum internasional.
"Meskipun demikian, penting bagi semua pemangku kepentingan untuk terus mendorong praktik-praktik perkebunan sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan begitu, industri ini tidak hanya akan tetap menjadi andalan ekonomi, tetapi juga berperan positif dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati," jelas Eddy.
Ke depan, transparansi data dan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat sipil sangat diperlukan untuk memastikan bahwa kebun sawit Indonesia benar-benar berkontribusi pada reforestasi dan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.
"Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa reforestasi, bukan deforestasi, adalah kenyataan di balik perkebunan sawit Indonesia," tutur Eddy lagi.(TESTI PRISCILLA/R)









