BORNEONEWS, Sampit – Banjir masih menjadi tantangan utama dalam meningkatkan hasil pertanian di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim, Permata Fitri mengungkapkan wilayah Selatan Kotim yang memiliki banyak lahan sawah, paling terdampak.
"Banjir sering terjadi di lahan sawah, khususnya di wilayah selatan Kotim. Karena itu, pemerintah fokus memperbaiki infrastruktur agar petani tidak gagal panen," jelas Fitri, Senin, 17 Februari 2025.
Banjir yang kerap melanda tersebut mempengaruhi produksi pertanian di wilayah tersebut. Diketahui, wilayah selatan seperti Kecamatan Teluk Sampit, Pulau Hanaut dan Mentaya Hilir Selatan (MHS) merupakan wilayah penghasil padi terbesar di Kabupaten Kotim.
Pemerintah Kotim berupaya maksimal memanfaatkan potensi pertanian untuk mendukung program swasembada pangan nasional. Peningkatan produksi padi juga menjadi fokus utama. Berbagai program telah dicanangkan, termasuk pencetakan sawah rakyat, optimalisasi lahan, dan perbaikan infrastruktur lahan.
Kerjasama dengan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum dan kementerian teknis terkait, juga dilakukan untuk memperbaiki sistem irigasi. Perbaikan ini mencakup saluran primer, sekunder, dan tersier di daerah rawan banjir.
Fitri berharap perbaikan infrastruktur irigasi yang berkelanjutan dapat mengatasi masalah banjir dan meningkatkan hasil pertanian. Upaya ini tak hanya bertujuan meningkatkan hasil panen, tetapi juga kesejahteraan petani. Dengan infrastruktur dan irigasi yang memadai, lahan pertanian di Kotim diharapkan berkontribusi besar pada swasembada pangan nasional.
"Dengan perbaikan menyeluruh, banjir tak lagi menjadi ancaman. Posisi irigasiakan lebih baik, mendukung produktivitas pertanian," demikian ungkap Fitri. (DEVIANA/H)









