BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada Januari 2025, subsektor peternakan di Provinsi Kalimantan Tengah mengalami kenaikan nilai tukar sebesar 0,79 persen. Peningkatan ini mencerminkan perbaikan kesejahteraan peternak di tengah berbagai tantangan yang dihadapi.
Nilai tukar peternakan atau yang dikenal sebagai NTPT, menjadi indikator penting dalam mengukur daya beli dan kesejahteraan peternak.
“Kenaikan NTPT pada bulan ini disebabkan oleh kenaikan yang signifikan pada indeks yang diterima petani atau It sebesar 0,38 persen. Hal ini menunjukkan bahwa harga hasil produksi peternakan mengalami peningkatan. Sebaliknya, indeks yang dibayar peternak atau Ib mengalami penurunan yang cukup besar sebesar 0,41 persen, yang berarti biaya yang dikeluarkan oleh peternak cenderung menurun,“ kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti pada Selasa, 18 Februari 2025.
Beberapa kelompok penyusun It mengalami kenaikan harga pada Januari 2025. Kelompok ternak besar seperti sapi potong mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,11 persen. Kelompok unggas, khususnya ayam ras pedaging, juga mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan sebesar 0,64 persen. Kenaikan harga ini berkontribusi besar terhadap peningkatan It subsektor peternakan secara keseluruhan.
“Namun, tidak semua kelompok penyusun It mengalami kenaikan. Kelompok ternak kecil, seperti babi dan kambing, serta kelompok hasil ternak seperti telur ayam ras, justru mengalami penurunan harga. Indeks harga kelompok ternak kecil turun sebesar 1,88 persen, sementara indeks harga kelompok hasil ternak turun sebesar 0,19 persen. Penurunan ini menjadi tantangan tersendiri bagi peternak di kelompok tersebut,“ katanya lagi.
Penurunan Ib pada NTPT sebesar 0,41 persen disebabkan oleh penurunan pada dua indeks penyusunnya. Indeks kelompok konsumsi rumah tangga atau IKRT turun sebesar 0,25 persen, mencerminkan penurunan biaya hidup sehari-hari bagi peternak.
“Selain itu, indeks kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal atau BPPBM juga mengalami penurunan sebesar 0,57 persen, menunjukkan efisiensi dalam biaya produksi yang dikeluarkan oleh peternak,“ jelas Agnes lagi. (TESTI PRISCILLA/H)









