PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pohon kelapa sawit atau Elaeis guineensis Jacq, meski bukan tanaman asli Indonesia, telah menjadi komoditas penting bagi negara ini. Berasal dari Afrika Barat, kelapa sawit tumbuh subur di iklim tropis dengan air yang melimpah, khususnya di Indonesia. Buahnya mampu menghasilkan dua jenis minyak nabati, yaitu minyak sawit mentah atau crude palm oil dan minyak inti sawit mentah atau crude palm kernel oil.

"Lebih dari 75 persen total produksi minyak sawit digunakan dalam produk pangan, terutama minyak goreng. Selain itu, minyak sawit juga diolah menjadi produk kosmetik, pembersih, hingga biofuel yang ramah lingkungan. Dengan demikian, kelapa sawit memainkan peran penting dalam berbagai industri, dari makanan hingga energi terbarukan," kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrachman pada Rabu, 19 Februari 2025.

Menurut laporan "Palm Oil and Biodiversity" dari International Union for Conservation of Nature atau IUCN yang diterbitkan pada tahun 2018, produksi minyak sawit global meningkat 15 kali lipat dari tahun 1980 hingga 2014, yakni dari 4,5 juta ton menjadi 70 juta ton.

"Peningkatan ini sejalan dengan pertumbuhan populasi global, yang menyebabkan permintaan akan minyak sawit terus meningkat, diperkirakan tumbuh sebesar 1,7 persen per tahun hingga 2050," tutur Eddy lagi.

Eddy menjelaskan bahwa sebagian besar pasokan minyak sawit global, sekitar 85%, berasal dari Indonesia dan Malaysia, diikuti oleh Thailand, Kolombia, dan Nigeria.

Kelapa sawit menjadi bagian penting dari kebutuhan pangan bagi hampir separuh penduduk dunia, terutama di Afrika dan Asia.

Selain itu, industri perkebunan kelapa sawit menyediakan lapangan kerja dan infrastruktur penting seperti jalan, rumah sakit, dan sekolah di daerah terpencil.

"Namun, peralihan dari kelapa sawit ke tanaman penghasil minyak lainnya bukanlah solusi ideal. Menurut IUCN, hal ini dapat mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati lebih lanjut. Kelapa sawit mampu menghasilkan minyak hingga sembilan kali lebih banyak per unit luas dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya, sehingga peralihan tersebut dapat berdampak negatif terhadap lingkungan," tutur Eddy lagi.

Selain itu, pelarangan minyak sawit justru bisa mengurangi upaya untuk memproduksi minyak sawit secara berkelanjutan. Perluasan lahan untuk tanaman penghasil minyak lainnya, seperti kedelai, bunga matahari, dan rapeseed, juga dapat merusak keanekaragaman hayati di daerah penghasil minyak tersebut.

Oleh karena itu, kelapa sawit tetap merupakan solusi yang lebih berkelanjutan dalam memenuhi permintaan global akan minyak nabati.(TESTI PRISCILLA/R)