BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti mengatakan bahwa secar tahunan nilai layanan ekspor melalui provinsi lain pada Desember 2024 mengalami penurunan signifikan sebesar 27,83 persen dibandingkan dengan Desember 2023.
"Pada tahun sebelumnya, nilai ekspor mencapai US$452,40 juta, namun pada Desember 2024 hanya mencapai US$326,50 juta. Penurunan ini terjadi hampir di seluruh pelabuhan utama, dengan penurunan tertinggi tercatat di Pelabuhan Satui, Kalimantan Selatan, sebesar US$106,44 juta atau turun 76,42 persen," kata Agnes pada Senin, 24 Februari 2025.
Secara kumulatif, kata Agnes lagi, jika dibandingkan dengan periode Januari-Desember 2023, nilai layanan ekspor yang melalui pelabuhan di wilayah Kalimantan Tengah juga mengalami penurunan sebesar US$238,16 juta atau 25,35 persen.
"Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya aktivitas ekspor di Pelabuhan Kumai yang tercatat sebesar US$147,70 juta atau turun 19,47 persen," katanya.
Kondisi penurunan ini tidak hanya terjadi di Kalimantan Tengah, namun juga terlihat pada layanan ekspor melalui provinsi lain yang mencatat penurunan sebesar US$730,04 juta atau turun 18,01 persen.
"Pelabuhan Banjarmasin menjadi penyumbang terbesar penurunan ini dengan penurunan nilai ekspor sebesar US$548,68 juta atau turun 17,87 persen," jelasnya.
Penurunan aktivitas ekspor di Kalimantan Tengah dan provinsi lain mengindikasikan adanya masalah yang lebih besar dalam sektor perdagangan ekspor. Hal ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk mencari solusi dalam meningkatkan kembali nilai ekspor.
Pemerintah daerah di Kalimantan Tengah diharapkan dapat bekerja sama dengan pihak terkait untuk mengatasi penurunan ini. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain memperbaiki infrastruktur pelabuhan, memberikan insentif kepada eksportir, serta membuka akses pasar baru di luar negeri. (TESTI PRISCILLA/j)









