PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Selama Desember 2024, nilai impor Provinsi Kalimantan Tengah mengalami penurunan yang signifikan. Data menunjukkan bahwa nilai impor mencapai US$3,10 juta atau turun sebesar 21,91 persen dibandingkan dengan November 2024 yang tercatat sebesar US$3,97 juta.

"Penurunan ini sejalan dengan penurunan volume impor yang juga terjadi pada periode yang sama. Volume impor Kalimantan Tengah menurun sebesar 11,97 persen, dari 8,27 ribu ton pada November 2024 menjadi 7,28 ribu ton pada Desember 2024," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti pada Senin, 24 Februari 2025.

Penurunan nilai impor ini menurut Agnes terutama disebabkan oleh turunnya nilai impor kelompok migas. Pada November 2024, nilai impor kelompok migas tercatat sebesar US$3,17 juta, namun pada Desember 2024 angkanya turun menjadi US$2,44 juta.

"Selain itu, kelompok non-migas juga mengalami penurunan, dari US$0,80 juta pada November 2024 menjadi US$0,66 juta pada Desember 2024," katanya.

Menariknya, meskipun industri pengolahan mengalami penurunan nilai impor, volume impornya justru meningkat. Ini menunjukkan adanya perubahan dalam kebutuhan dan konsumsi bahan baku di sektor industri pengolahan di Kalimantan Tengah.

"Secara keseluruhan, penurunan baik dalam total nilai maupun volume impor di Kalimantan Tengah pada Desember 2024 dibandingkan dengan November 2024 utamanya didorong oleh penurunan nilai dan volume impor pada kelompok bahan bakar mineral seperti aspal," tutur Agnes.

Jika melihat lebih dalam, penurunan dalam nilai dan volume impor ini dapat memberikan dampak pada perekonomian lokal Kalimantan Tengah, terutama pada sektor-sektor yang bergantung pada impor untuk bahan baku dan komponen produksi lainnya.

Hal ini juga menunjukkan bahwa perubahan dinamika perdagangan global dan regional serta kebijakan domestik dapat mempengaruhi angka impor dan berdampak langsung pada perekonomian daerah. (TESTI PRISCILLA/j)