SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit — Sebanyak 245 usulan hasil reses dari Daerah Pemilihan (Dapil) III Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) disampaikan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim. Usulan tersebut didominasi oleh kebutuhan infrastruktur, yang menjadi masalah utama di wilayah selatan Kotim.

Anggota DPRD Kotim Dapil III, Zainudin, mengungkapkan bahwa usulan ini berasal dari empat kecamatan, yaitu Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit, dan Pulau Hanaut. Dari seluruh usulan yang masuk, sekitar 75 persen berkaitan dengan pembangunan infrastruktur.

“Sebagian besar aspirasi masyarakat adalah perbaikan dan pembangunan infrastruktur, baik jalan, jembatan, sungai, maupun irigasi. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi Dapil III, terutama jalan-jalan di permukiman dan kawasan pertanian yang masih banyak belum beraspal,” ujar Zainudin, Selasa, 25 Februari 2025.

Selain infrastruktur, masyarakat juga mengusulkan bantuan hibah untuk sarana dan prasarana ibadah, pendidikan, dan fasilitas umum lainnya. Menurut Zainudin, kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan di wilayah selatan Kotim masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

“Bayangkan, ada jembatan Sapihan sepanjang 30 meter yang belum tersentuh pembangunan sejak dulu. Bahkan, ada sekolah yang sudah 18 tahun tidak mendapatkan perbaikan atau pengembangan. Padahal, masyarakat di sini tetap membayar pajak,” tegasnya.

Zainudin berharap usulan-usulan ini dapat segera direalisasikan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia juga mengungkapkan kekhawatiran dan rasa malu karena sering kali masyarakat bertanya apakah usulan mereka benar-benar akan direalisasikan atau hanya sebatas wacana.

“Jika pemerintah benar-benar ingin mengangkat harkat dan martabat masyarakat, pembangunan infrastruktur harus menjadi prioritas. Masyarakat di wilayah selatan, yang mayoritas petani, sangat bergantung pada infrastruktur yang memadai untuk mendukung aktivitas pertanian mereka,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa sektor pertanian di wilayah selatan sering dianggap sebagai sektor yang kurang berkembang, padahal hasil pertanian menjadi salah satu penopang utama kebutuhan pangan di Kotim.

“Jangan lagi mengatakan sektor pertanian itu identik dengan kemiskinan. Justru mereka yang memberi makan kita. Oleh karena itu, perhatian lebih pada pembangunan di wilayah ini sangat dibutuhkan,” pungkas Zainudin. (DEWI PATMALASARI/j)