PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Industri minyak sawit telah lama menjadi pusat perhatian karena kemampuannya dalam mengurangi angka kemiskinan di banyak negara produsen minyak sawit, termasuk Indonesia.

"Sebagai salah satu dari lima besar produsen minyak sawit dunia, Indonesia bersama dengan Malaysia, Thailand, Nigeria, dan Kolombia, diharapkan dapat memainkan peran penting dalam mengurangi jumlah penduduk miskin di dunia," kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP Kelapa Sawit, Eddy Abdurrachman pada Rabu, 26 Februari 2025.

Menurut laporan PASPI tahun 2021 berdasarkan data Bank Dunia tahun 2020, sekitar 17 persen penduduk miskin dunia berada di negara-negara produsen minyak sawit utama ini.

Laporan PASPI menyatakan bahwa terdapat tiga jalur utama di mana industri minyak sawit dapat berkontribusi pada pengurangan kemiskinan. Pertama, melalui perkebunan kelapa sawit yang ada di negara-negara produsen minyak sawit.

"Kehadiran perkebunan ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan pendapatan dan daya beli penduduk miskin, terutama di pedesaan. Studi PASPI tahun 2014 menunjukkan bahwa peningkatan produksi minyak sawit sebesar 10 persen dapat menurunkan kemiskinan sebesar 7,7 persen," katanya.

Jalur kedua yang diidentifikasi oleh PASPI adalah melalui kegiatan hilir di negara-negara yang mengimpor minyak sawit. Di negara-negara seperti India, Pakistan, Bangladesh, dan China, minyak sawit diolah menjadi produk pangan dan non-pangan, menciptakan kesempatan kerja dan pendapatan bagi penduduk miskin. PASPI tahun 2021 mencatat bahwa hilirisasi minyak sawit di negara-negara importir mampu menciptakan sekitar 2,3 juta kesempatan kerja dan pendapatan sebesar US$32,8 miliar.

"Selain itu, minyak sawit yang harganya kompetitif dibandingkan minyak nabati lainnya, juga berdampak positif bagi penduduk miskin," jelas Eddy.

Harga minyak sawit yang lebih murah dibandingkan minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak biji bunga matahari, memungkinkan penduduk miskin untuk mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk kebutuhan lain. PASPI atau 2021 menyebutkan bahwa dengan pendapatan yang tetap, masyarakat miskin dapat mengkonsumsi lebih banyak minyak sawit sehingga dapat mengurangi pengeluaran mereka.

"Perkebunan kelapa sawit tidak hanya bermanfaat di Indonesia, tetapi juga di negara-negara produsen lainnya seperti Malaysia, Papua Nugini, Nigeria, dan Kolombia. Studi menunjukkan bahwa pertumbuhan industri minyak sawit berkontribusi signifikan pada pengurangan kemiskinan di daerah pedesaan dan perkotaan di negara-negara tersebut. Peran penting ini menegaskan pentingnya industri minyak sawit dalam pengentasan kemiskinan global," jelas Eddy lagi.

Dengan demikian, kehadiran industri minyak sawit memberikan harapan besar dalam upaya pengurangan kemiskinan dunia. Melalui tiga jalur kontribusi utama yakni perkebunan, hilirisasi, dan harga yang kompetitif, industri minyak sawit dapat membantu meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin di berbagai negara. Potensi ini perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk mencapai tujuan pengurangan kemiskinan global secara berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/j)