BORNEONEWS, Jakarta - Pengawasan terhadap sektor pasar modal di Kalimantan terus diperketat oleh otoritas terkait. Langkah ini mencakup pengawasan terhadap 98 jaringan kantor Perusahaan Efek, 3 Manajer Investasi, dan 176 jaringan kantor Agen Penjual Efek Reksa Dana atau APERD. Upaya pengawasan yang intensif ini bertujuan untuk memastikan bahwa aktivitas pasar modal berlangsung sesuai dengan aturan dan menjaga kepercayaan investor.
"Hingga 31 Oktober 2024, nilai transaksi penjualan saham mencapai Rp49,63 triliun, mencatatkan kenaikan sebesar 16,45 persen month to month. Frekuensi transaksi juga mengalami peningkatan yang signifikan, dengan jumlah transaksi yang mencapai lebih dari 9 ribu transaksi," kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Parjiman dalam kegiatan Media Update dan Sosialisasi IASC bersama Insan Pers se-Kalimantan pada Selasa, 25 Februari 2025 di Wisma Mulia, Jakarta.
Tidak sendiri, Parjiman menyampaikan media update ini bersama Kepala OJK Provinsi Kalteng, Primandanu Febriyan Aziz, Kepala OJK Provinsi Kalimantan Selatan, Agus Maiyo, serta Kepala OJK Provinsi Kalimantan Barat, Rochma Hidayati dan Deputi Direktur Perilaku PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Misyar Bonowisanto. Selain itu ada penyampaian Sosialisasi IASC oleh Analis Eksekutif Senior Kelompok Spesialis Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Fajaruddin.
"Selain penjualan saham, penjualan reksadana di Kalimantan juga menunjukkan tren positif. Hingga 31 Desember 2024, nilai penjualan reksadana mencapai Rp7,15 triliun. Angka ini mencatatkan peningkatan sebesar 52,45 persen quarter to quarter, mengindikasikan minat yang tinggi dari para investor terhadap instrumen investasi ini," katanya.
Jumlah investor reksadana di Kalimantan juga mengalami peningkatan yang signifikan.
"Hingga akhir tahun 2024, jumlah investor reksadana tercatat lebih dari 57 ribu orang. Pertumbuhan ini mencerminkan adanya kepercayaan yang semakin tinggi dari masyarakat terhadap produk investasi reksadana," katanya.
Otoritas pasar modal terus melakukan upaya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang pasar modal. Edukasi ini diharapkan dapat mendorong partisipasi lebih banyak investor dan menciptakan pasar yang lebih sehat dan transparan.
"Ke depan, diharapkan tren positif ini dapat terus berlanjut, sehingga pasar modal di Kalimantan dapat terus tumbuh dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian daerah dan nasional," tutur Parjiman. (TESTI PRISCILLA/j)









