PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Negara-negara seperti Afrika, India, Pakistan, Bangladesh, dan China merupakan importir utama minyak sawit di dunia. Berdasarkan laporan PASPI di tahun 2021 yang mengutip data USDA, sekitar 56 persen impor minyak sawit dunia dilakukan oleh negara-negara tersebut. Minyak sawit yang diimpor ini kemudian diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk pangan maupun non-pangan, yang memberikan nilai tambah ekonomi.

"Proses hilirisasi minyak sawit di negara-negara importir ini menciptakan 'kue ekonomi' berupa kesempatan kerja dan penciptaan pendapatan," kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP Kelapa Sawit, Eddy Abdurrachman dalam rilisnya pada Kamis, 27 Februari 2025.

Eddy menjelaskan bahwa dalam laporan PASPI mencatat bahwa hilirisasi ini berperan penting dalam menolong penduduk miskin dengan menyediakan pekerjaan dan penghasilan tambahan.

"Studi Europe Economics (2016) yang diolah PASPI juga menunjukkan bahwa hilirisasi minyak sawit mampu menciptakan kesempatan kerja sebesar 2,3 juta orang, melalui efek langsung, tidak langsung, dan terinduksi," jelas Eddy.

Secara rinci, studi tersebut mencatat bahwa sekitar 54 persen jumlah kesempatan kerja global tercipta dari hilirisasi kelapa sawit di negara-negara dengan penduduk miskin. Distribusinya cukup merata dengan India menyumbang 20 persen, Afrika 7 persen, China 12 persen, serta Pakistan dan Bangladesh masing-masing 5 persen. Hal ini menunjukkan pentingnya peran hilirisasi dalam meningkatkan kesejahteraan di negara-negara tersebut.

"Tidak hanya dalam penciptaan kesempatan kerja, hilirisasi minyak sawit juga berdampak positif terhadap penciptaan pendapatan. PASPI tahun 2021 dalam laporannya menemukan bahwa hilirisasi minyak sawit di negara importir menghasilkan pendapatan sebesar US$32,8 miliar.," katanya.

Pendapatan ini juga memiliki efek langsung, tidak langsung, dan terinduksi yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pendapatan yang tercipta dari hilirisasi minyak sawit sebagian besar terjadi di negara-negara importir minyak sawit yang juga merupakan tempat tinggal penduduk miskin dunia. Afrika menyumbang 13,5 persen dari total pendapatan tersebut, diikuti oleh India dengan 16,7 persen, China dengan 17 persen, serta Pakistan dan Bangladesh dengan masing-masing 10,1 persen. Ini menunjukkan bahwa hilirisasi minyak sawit sangat berperan dalam memperbaiki kondisi ekonomi negara-negara tersebut.

"Dengan demikian, hilirisasi minyak sawit di negara-negara importir tidak hanya memberikan nilai tambah ekonomi, tetapi juga memiliki dampak sosial yang signifikan. Melalui penciptaan kesempatan kerja dan pendapatan, proses hilirisasi ini membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin di berbagai negara, menjadikannya komponen penting dalam upaya pengentasan kemiskinan global," jelasnya. (TESTI PRISCILLA/j)