BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dampak kasus dugaan korupsi yang melibatkan petinggi perusahaan negara Pertamina berupa pengoplosan Pertamax yang merugikan negara Rp 193,7 triliun, ternyata juga memiliki dampak lanjutan yang panjang.
Pasalnya, bahan bakar yang dioplos tentunya tidak memenuhi standar baku, sehingga menimbulkan gangguan pada kendaraan.
Seperti yang diungkapkan salah seorang sales mobil dari Wira Toyota Pangkalan Bun, Sirajuddin pada www.borneonews.co.id, Kamis, 27 Februari 2025. Dia mengatakan, beberapa rekannya sesama sales yang menjual mobil baru sempat mendapat komplain dari kliennya dalam hal kerusakan pada mesin.
"Sekitar beberapa bulan lalu, ada 2 orang konsumen yang komplain lantaran mesin mobil yang dikendarainya terasa tidak nyaman," jelas Sirajuddin.
Ternyata, lanjut Sirajuddin, setelah diperiksa bagian filter, pompa bahan bakar pada mobil tersebut kotor.
--page
"Keruan saat itu, kami dikira menjual mobil bekas, namun diakui mobil baru. Padahal mobil tersebut benar-benar baru. Ternyata saat ini terbukti bahwa kualitas bahan bakar dari Pertamina yang bermasalah," jelas Sirajuddin.
Karena itulah, menurut Sirajuddin, kasus korupsi yang terjadi di Pertamina tersebut, secara tidak langsung juga merugikan ia sebagai sales.
"Lantaran bagaimana kualitas bahan bakar minyak yang dijual pada masyarakat, kami juga tidak tahu. Namun setelah kasus korupsi ini terungkap, barulah terbukti memang bahan bakarnya yang membuat filter bahan bakar tersebut kotor," jelas Sirajuddin. (WAHYU KRIDA/Y)









