BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada Februari 2025, Provinsi Kalimantan Tengah mencatat deflasi sebesar 0,46 persen secara bulanan atau month-to-month, disingkat m-to-m.
"Deflasi ini terutama didorong oleh penurunan tarif listrik sebesar 0,38 persen. Tarif listrik yang lebih rendah memberikan kontribusi signifikan terhadap pengurangan beban biaya hidup masyarakat di provinsi ini," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti dalam penyampaian berita resmi statistik pada Senin, 3 Maret 2025.
Selain tarif listrik, kata Agnes, penurunan harga daging ayam ras sebesar 0,24 persen juga turut memberikan andil besar terhadap deflasi. Komoditas ini merupakan salah satu kebutuhan pokok yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, sehingga penurunan harganya memberikan dampak positif bagi daya beli.
"Komoditas lain yang berkontribusi terhadap deflasi adalah bawang merah, yang harganya turun sebesar 0,07 persen. Penurunan harga bawang merah membantu menurunkan biaya bahan pokok yang digunakan dalam banyak masakan tradisional di Kalimantan Tengah," katanya.
Selain itu, Agnes menyebut bahwa cabai rawit dan tomat juga mengalami penurunan harga masing-masing sebesar 0,03 persen. Penurunan harga kedua komoditas ini meskipun relatif kecil, tetap berkontribusi terhadap deflasi secara keseluruhan, mengingat cabai rawit dan tomat adalah bahan penting dalam masakan lokal.
"Namun, secara year-on-year atau y-on-y, Provinsi Kalimantan Tengah tetap mengalami inflasi sebesar 0,28 persen. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada penurunan harga pada beberapa komoditas, tingkat inflasi tahunan masih menunjukkan peningkatan," katanya.
Sementara secara tahun kalender atau y-to-d, terjadi deflasi sebesar 1,00 persen di Provinsi Kalimantan Tengah. Angka ini mengindikasikan adanya penurunan harga yang cukup signifikan sepanjang tahun 2025, yang dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat. (TESTI PRISCILLA/j)









