BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Momentum bulan suci Ramadan menjadi waktu penuh berkah bagi umat Muslim. Pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidzul Qur'an Darul Al Hikmah Pangkalan Bun menekankan kepada para santrinya untuk semakin bersemangat dalam beribadah.
Ponpes yang juga berfungsi sebagai boarding school SMP Islam Maarif NU Pangkalan Bun ini berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Gg H. Sarman RT 15, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat. Selama Ramadan 1446 H/2025, ponpes ini telah menyiapkan jadwal kegiatan yang padat bagi para santrinya, mulai kegiatan sekolah, TPQ, hafalan Al Qur’an, sholat tahajud dan ekstrakurikuler.
Pengurus Ponpes Tahfidzul Qur'an Darul Al Hikmah, Sutrisno, mengingatkan sekitar 120 santrinya agar menjadikan Ramadan sebagai ajang memperbanyak ibadah, bukan justru berkurang karena alasan berpuasa.
"Selain kegiatan wajib seperti sekolah, santri juga mengikuti program pondok yang telah dijadwalkan. Saya tekankan bahwa Ramadan bukan alasan untuk menghindari aktivitas, justru harus lebih semangat," ujar Gus Sutris, sapaan akrabnya, Rabu, 5 Maret 2025.
Pria Kelahiran Trenggalek, Jawa Timur, ini merinci, bahwa kegiatan santri dimulai sejak pukul 07.00 - 12.00 WIB. Setelah Salat Zuhur, mereka beristirahat sejenak dan kembali melanjutkan kegiatan pada pukul 14.00 - 15.00 WIB dengan murojaah atau setoran hafalan ayat.
--page
"Setelah Salat Ashar, ada kelas atau TPQ sore dengan materi Iqro bagi murid usia 7 tahun, termasuk dari luar pondok. Santri juga belajar kitab, fiqih, dan materi lainnya hingga pukul 16.30 WIB," jelasnya.
Menjelang berbuka, para santri terkadang diajak jalan-jalan menggunakan armada bus untuk mencari takjil di sekitar Pangkalan Bun. Setelah berbuka puasa dan menunaikan Salat Magrib, mereka melanjutkan Salat Tarawih hingga pukul 20.00 WIB, lalu dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an selama kurang lebih satu jam.
"Dengan waktu tadarus sekitar satu jam, setiap malam santri bisa menyelesaikan satu juz Al-Qur’an," ungkapnya.
Setelah tadarus, santri memiliki waktu untuk beristirahat atau belajar. Selain itu, mereka juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti Rebana, Tilawah, dan Pencak Silat Pagar Nusa.
Pada pukul 02.00 WIB, mereka bangun untuk melaksanakan Salat Tahajud, dilanjutkan dengan sahur dan murojaah hingga menjelang Salat Subuh. Setelah Subuh, santri mendapatkan tausiah dari para ustaz yang bertugas secara bergantian.
"Karena ini momen Ramadan, tausiah agama lebih difokuskan pada keutamaan bulan suci ini," katanya.
--page
Ponpes yang berdiri sekitar lima tahun dan SMP yang berusia tiga tahun ini juga mengasuh anak yatim piatu serta santri dari keluarga kurang mampu dengan memberikan kompensasi biaya pendidikan.
Jadi dari 120 santrinya, jadi ada 40 anak yatim dan sekitar 60 anak itu kategori tidak mampu dengan melampirkan surat keterangan tidak mampu.
Kemudian, target utama ponpes adalah memastikan setiap lulusan SMP mampu menghafal minimal lima juz Al-Qur’an.
"Alhamdulillah, saat ini ada santri kelas 9 yang sudah hafal empat juz. Semoga saat lulus nanti bisa mencapai lima juz," imbuhnya.
Ponpes yang dikelola secara mandiri ini tidak hanya menerima santri dari Pangkalan Bun, tetapi juga dari daerah lain, seperti Desa Sabuai, Kecamatan Sukamandang, dan bahkan Sukamara.
Sutrisno mengaku bangga dengan perkembangan pesat yang dialami santrinya, terutama dalam bidang pidato berbahasa Arab dan Inggris.
--page
"Luar biasa, ternyata santri kami mampu berpidato dalam bahasa Arab dan Inggris. Bahkan, kami pernah mengadakan lomba pidato dan mereka tampil maksimal. Ke depan, saya ingin mengadakan lomba puisi dalam bahasa Arab dan Inggris yang terbuka untuk umum. Kami ingin melihat sejauh mana kemampuan santri kami berkembang," pungkasnya. (DANANG/Y)









