PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Palangka Raya gencar melakukan pengawasan keamanan pangan, khususnya selama bulan Ramadan.

Sebagai bentuk komitmen tersebut, BBPOM Palangka Raya melakukan pengawasan takjil di Pasar Ramadan Kabupaten Kapuas pada tanggal 4 Maret 2025.

Kegiatan ini melibatkan mobil laboratorium keliling BBPOM dan dihadiri langsung oleh Kepala BBPOM Palangka Raya, Ali Yudhi Hartanto, serta perwakilan dari Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM, dan Satpol PP Kabupaten Kapuas.

Pengawasan takjil difokuskan di sekitar GOR Panunjung Tarung dan Jalan Teratai, Kuala Kapuas. Tim mobil laboratorium keliling BBPOM Palangka Raya, dipimpin oleh Ketua Tim Kerja Infokom, Ibu Wahyuri, mengambil 32 sampel takjil untuk uji cepat.

Uji cepat ini mendeteksi empat bahan kimia berbahaya yang sering disalahgunakan dalam pengolahan makanan, yakni formalin, boraks, rhodamin B, dan methanil yellow.

"Hasil uji cepat menunjukkan satu sampel takjil tidak memenuhi syarat (TMS) karena teridentifikasi mengandung formalin," katanya, Jumat, 7 Maret 2025.

Sampel TMS ini akan menjalani uji lebih lanjut di laboratorium BBPOM Palangka Raya untuk memastikan kandungan bahan berbahaya di dalamnya, sementara itu, pedagang dengan sampel yang memenuhi syarat (MS) diberikan stiker penjamin keamanan pangan dari BBPOM sebagai tanda bahwa produk mereka aman dikonsumsi.

Selain pemeriksaan, BBPOM Palangka Raya juga memberikan edukasi kepada para pedagang takjil tentang pentingnya menjaga kebersihan dalam pengolahan makanan dan menjaga suhu pangan agar terhindar dari risiko keracunan.

Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pedagang dalam menyediakan makanan yang aman dan sehat bagi masyarakat.

Kehadiran BBPOM Palangka Raya di Kabupaten Kapuas memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat dalam mengonsumsi takjil selama Ramadan.

"Pengawasan ini merupakan wujud nyata komitmen BBPOM Palangka Raya dalam melindungi masyarakat dari bahaya makanan yang tidak aman," pungkasnya. (PATHUR/R)