PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Salah satu petani semangka Desa Henda, Kecamatan Jabiren Raya, Erna menyampaikan, banyak kendala dihadapi selama bertani semangka.

"Penyiapan lahan, tiga bulan sebelum nanam. Setelah pembukaan lahan, musim kemarau lebih panjang dari musim hujan, atau sebaliknya. Karena bertani semangka ini, musim kemarau dan musim hujan seimbang. Maka hasilnya juga bagus," kata Erna, Jumat, 7 Maret 2025.

Selain itu, kata Erna, perjuangan awalnya sulit karena membutuhkan modal yang sangat banyak, paling sedikit Rp20 juta untuk lahan seluas 1 hektar.

Dijelaskan Erna, modal tersebut untuk membeli pupuk kimia yang harganya sangat mahal, bibit dan pengupahan.

Bibit yang digunakan semangka Amara, daging buah didalamnya warna merah tanpa berbiji dan berkulit tipis, sehingga tidak bertahan lama ketika dibawa perjalanan jauh.

--page

"Ada juga bibit lainnya seperti Inden, daging buah warna kuning. Kemudian jenis Madrid, tebal kulitnya sehingga bisa bertahan lama saat dibawa dalam perjalanan jauh. 

Sebelumnya, Erna menyampaikan, menanam semangka di lahan seluas 1 hektar hasilnya menguntungkan. Namun, dalam proses perawatannya, harus fokus supaya hasilnya maksimal.

"Sekali tanam di lahan 1 hektar kurang lebih dua ribu pohon dan fokus untuk merawatnya, pengasilan yang didapatkan sekali panen Rp 100 juta. Jumlah tersebut  belum termasuk pemotongan modal yang dikeluarkan," kata Erna.

(RETHA/Y)