SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kapal wisata susur Sungai Mentaya yang tenggelam pada Selasa (21/1) lalu akibat kebocoran lambung, kini nasibnya masih menjadi tanda tanya.  

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim, Bima Ekawardhana menjelaskan bahwa tim kajian telah menyelesaikan pengecekan kondisi kapal. 

"Tim sudah turun dan sedang memproses hasil pengecekan. Rekomendasinya akan kami sampaikan ke Bapak Bupati untuk menentukan apakah kapal layak difungsikan kembali atau tidak," ujarnya, Sabtu, 8 Maret 2025.

Evakuasi kapal yang dilakukan pada akhir Januari lalu membutuhkan upaya besar, melibatkan 60 drum plastik dan penyelam tradisional untuk mengangkat kapal ke permukaan. Bima Ekawardhana sendiri turut memantau proses evakuasi tersebut.

Meskipun kapal telah berhasil diangkat,  pertanyaan mengenai kelayakan operasionalnya tetap menjadi pertimbangan utama.  Dalam Kartu Inventaris Barang (KIB), kapal tersebut tercatat bernilai Rp800 juta pada tahun 2006/2007, namun kini nilainya telah dianggap nol akibat penyusutan aset.

Bima mengakui bahwa secara fisik kapal masih bisa diperbaiki. Namun, ia juga mempertimbangkan aspek psikologis masyarakat yang mungkin mengalami trauma jika kapal tersebut tetap digunakan sebagai kapal wisata.  

"Dilihat dari fisiknya, kapal bisa diperbaiki. Tapi, jika tetap digunakan sebagai kapal wisata, masyarakat mungkin trauma," tambahnya.

Jika rekomendasi tim kajian menyatakan kapal tidak layak beroperasi, maka aset tersebut kemungkinan akan dilelang sesuai prosedur.  Tentu hal tersebut berdasarkan persetujuan Bupati Kotim.

"Jika Bapak Bupati menyetujui, proses selanjutnya adalah pelelangan.  Setelah itu, terserah siapa yang mau membeli dan untuk apa kapal itu digunakan," jelas Bima.

Melihat kondisi ini, Bima menyarankan pembangunan kapal wisata baru yang lebih aman dan layak untuk mendukung sektor pariwisata susur Sungai Mentaya.  Pasalnya, jika memperbaiki selain biaya yang mahal juga minat masyarakat kurang karena psikologis masyarakat tadi. 

"Keputusan akhir mengenai nasib kapal wisata itu kini tergantung bapak bupati. Tentu masyarakat menantikan keputusan terbaik yang akan diambil, demi kenyamanan dan keamanan wisata susur Sungai Mentaya," tutupnya. (DEVIANA/r)