BORNEONEWS, Palangka Raya – Banjir yang kerap melanda Palangka Raya telah menjadi masalah serius, menimbulkan kerugian material dan mengganggu kehidupan masyarakat. Menurut Pengamat Infrastruktur Kalteng dan dosen arsitektur UPR Mandarin Guntur, beberapa faktor kompleks berkontribusi terhadap bencana ini.
Salah satu penyebab utama adalah pendangkalan Sungai Kahayan akibat sedimentasi dan aktivitas manusia seperti penambangan dan pembalakan liar di hulu sungai. Pendangkalan ini mengurangi kapasitas sungai dalam menampung air, sehingga hujan lebat langsung menyebabkan luapan dan banjir. Perubahan iklim yang meningkatkan intensitas curah hujan semakin memperparah situasi.
Pola pemukiman yang menempati lahan rendah juga menjadi faktor penting. Banyak rumah dibangun di daerah rawa atau cekungan, yang seharusnya berfungsi sebagai resapan air. Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk yang cepat memaksa masyarakat mencari lahan murah, meskipun berisiko banjir. Tata ruang yang belum efektif memperparah masalah ini.
Desain rumah yang tidak adaptif terhadap kondisi alam setempat juga turut berkontribusi. Mayoritas rumah dibangun menempel tanah, mengabaikan kearifan lokal rumah panggung yang lebih sesuai dengan lingkungan rawan banjir. Desain ini menyebabkan air langsung masuk rumah saat banjir.
"Selain faktor alam dan pemukiman, pembangunan infrastruktur yang tidak memperhatikan pola aliran air alami juga menjadi penyebab," katanya, Selasa, 18 Maret 2025.
Saluran drainase yang tidak terawat, tersumbat sampah, atau bahkan tidak ada di beberapa area, memperburuk genangan air. Pembangunan yang mengorbankan ruang terbuka hijau juga mengurangi daya serap air.
Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan juga berperan. Pembuangan sampah sembarangan, penggundulan hutan, dan pembakaran lahan gambut merusak ekosistem dan memperparah banjir. Edukasi dan kampanye lingkungan yang lebih intensif diperlukan untuk mengubah perilaku masyarakat.
"Solusi jangka panjang membutuhkan pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pengerukan sungai hingga perubahan tata ruang dan peningkatan kesadaran masyarakat," pungkasnya. (PATHUR/H)









