PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Anggota Komisi III DPRD Palangka Raya, Arif M. Norkim, menyoroti ketidaksesuaian antara lulusan pendidikan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan di dunia industri. 

Menurutnya, hal ini menjadi faktor utama yang mempengaruhi kuota tenaga kerja dan menyebabkan pengangguran. 

"Banyak lulusan yang tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Kurikulum di beberapa institusi pendidikan belum menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan pasar kerja," katanya, Rabu, 19 Maret 2025.

Selain itu, minimnya pelatihan berbasis keterampilan yang bisa meningkatkan daya saing tenaga kerja. Dan sertifikasi keahlian masih terbatas, sehingga lulusan kurang kompetitif di pasar kerja.

"Industri kerja sering kali mencari tenaga kerja dengan pengalaman, sementara lulusan baru jarang memiliki kesempatan praktik langsung," tuturnya.

Kemudian, katanya beberapa bidang pendidikan memiliki jumlah lulusan yang lebih banyak dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia.

Untuk menangani hal ini ia memberikan solusi agar pemerintah daerah membantu lulusan yang kesulitan mendapatkan pekerjaan untuk berwirausaha melalui pelatihan dan modal usaha.Dan mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif dan UMKM agar bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja.

"Dengan langkah ini ketidaksesuaian antara lulusan pendidikan dan kebutuhan tenaga kerja dapat dikurangi, sehingga angka pengangguran bisa ditekan dan kualitas tenaga kerja di Palangka Raya semakin meningkat," pungkasnya. (MARINI/j)