PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, melaksanakan pelepasliaran individu orangutan bernama Hanin di area konservasi gugusan Pulau Salat, Desa Pilang, Kabupaten Pulang Pisau, pada Rabu, 19 Maret 2025. Pelepasliaran ini merupakan salah satu langkah penting dalam upaya pelestarian orangutan di Kalimantan Tengah.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Raja didampingi oleh Ketua Pengurus Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo atau BOSF, Jamartin Sihite. Sebelum pelepasliaran berlangsung, Jamartin menjelaskan secara rinci tata cara pelepasliaran serta jalur evakuasi sebagai langkah antisipasi keselamatan. Keberadaan Yayasan BOS menunjukkan peran penting organisasi lokal dalam mendukung konservasi satwa langka.

Hanin, orangutan betina berusia 11 tahun, telah melalui perjalanan panjang sebelum dilepasliarkan. Menurut BMP Specialist Yayasan BOS, E Prasetyo, Hanin pertama kali tiba di Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng pada 12 November 2015, saat usianya masih 10 bulan dengan berat 3,7 kilogram. Ia diserahkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Kalimantan Tengah setelah ditemukan di Desa Pangkoh, Kabupaten Pulang Pisau.

"Saat pertama kali ditemukan, Hanin berada dalam kondisi sehat meskipun terdapat bintil-bintil kecil yang diduga gigitan nyamuk. Setelah menjalani karantina pada tahun yang sama, ia memulai tahapan rehabilitasi yang panjang. Masa rehabilitasinya mencakup pelatihan kemampuan bertahan hidup di alam liar," kata Tyo kepada Borneonews.

Pada tahun 2021, lanjut Tyo, Hanin dipindahkan ke Pulau Pra-Pelepasliaran Badak Besar, sebuah tahapan penting sebelum akhirnya siap kembali ke habitat aslinya. Di pulau tersebut, Hanin dilatih untuk mandiri, mempersiapkannya untuk kehidupan di hutan yang sesungguhnya.

Proses pelepasliaran ini mencerminkan dedikasi tinggi terhadap konservasi satwa liar di Indonesia. Pulau Salat sebagai lokasi pelepasliaran dipilih karena habitatnya yang mendukung kehidupan orangutan serta berada dalam area perlindungan khusus.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan apresiasinya terhadap upaya Yayasan BOS dalam merehabilitasi dan melepaskan kembali orangutan ke alam liar.

"Konservasi ini adalah tanggung jawab kita bersama," ujar Menteri Raja dalam sambutannya di ruang serbaguna Pulau Salat.

Sementara itu, Jamartin Sihite menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan organisasi non-pemerintah dalam pelestarian satwa liar. Ia juga mengungkapkan kebanggaannya melihat Hanin akhirnya kembali ke habitat alaminya.

"Pelepasliaran Hanin diharapkan menjadi contoh nyata keberhasilan rehabilitasi orangutan serta menggugah kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan. Langkah ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati demi keberlanjutan ekosistem," tutur Jamartin. (TESTI PRISCILLA/j)