BORNEONEWS, Palangka Raya - Menteri Kehutanan Republik Indonesia melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Tengah pada Rabu-Kamis, 19-20 Maret 2025 untuk melihat secara langsung Area Konservasi Pulau Salat dan peresmian Sekolah Hutan di Nyaru Menteng. Area konservasi Pulau Salat ini menjadi salah satu contoh nyata dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan di tengah pembangunan industri perkebunan sawit.
Area Konservasi Pulau Salat dibangun oleh salah satu perusahaan perkebunan sawit yakni Citra Borneo Indah atau CBI Group melalui salah satu anak perusahaannya, Sawit Sumbermas Sarana atau SSMS sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan.
Menanggapi kunjungan ini, Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang menyatakan apresiasinya atas inisiatif ini.
"Kita menyambut baik kedatangan Menteri Kehutanan RI ke Palangka Raya dalam mengunjungi Area Konservasi Pulau Salat yang dibangun oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit," kata Rawing kepada Borneonews pada Kamis, 20 Maret 2025.
Seperti diketahui, kata Rawing yang adalah Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini, perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit saat ini memang harus memiliki sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil atau ISPO.
"Sebagai bagian dari kepatuhan terhadap sertifikasi ISPO, perusahaan-perusahaan perkebunan sawit kini diwajibkan untuk memperhatikan empat prinsip utama yakni kepentingan ekonomi, sosial, lingkungan, dan keterbukaan publik. Keempat prinsip ini mencerminkan pendekatan pembangunan yang tidak hanya berfokus pada masa kini, tetapi juga demi kepentingan generasi mendatang," jelas Pengamat Ekonomi Bidang Perkebunan ini.
CBI Group, lanjut Rawing, salah satu perusahaan sawit terkemuka, mendapat perhatian khusus atas kontribusinya dalam pengembangan Area Konservasi Pulau Salat.
"Kita bangga dengan CBI, salah satu grup perusahaan sawit yang sangat peduli terhadap kelestarian lingkungan. Hal ini harusnya menjadi inspirasi bagi perusahaan-perusahaan lain untuk mengikuti langkah serupa," tutur Rawing lagi.
Penerapan prinsip-prinsip ISPO oleh perusahaan sawit seperti CBI Group kata Rawing menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan. Keberhasilan ini diharapkan menjadi contoh yang diikuti oleh pelaku industri lainnya di Indonesia.
"Dengan adanya kunjungan ini, diharapkan semakin banyak perusahaan yang terinspirasi untuk membangun area konservasi serupa, menciptakan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan yang berkelanjutan," tutup Dosen Universitas Kristen Palangka Raya ini.(TESTI PRISCILLA/j)









