BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dinas Pertanian Kotawaringin Barat (Kobar) terus mengembangkan program pemeliharaan ternak sapi dengan memanfaatkan teknologi inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis hewani di wilayah tersebut.
"Kami berharap melalui program ini, populasi sapi akan meningkat dan mendukung ketahanan pangan yang lebih baik di Kobar," kata Kepala Dinas Pertanian Kobar Kris Budi Hastuti, Minggu, 23 Maret 2025.
Inseminasi buatan adalah teknik untuk meningkatkan kemungkinan kehamilan pada sapi dengan cara menyalurkan sperma langsung ke saluran reproduksi betina. Selain meningkatkan peluang keberhasilan pembuahan, IB juga berfokus pada pencapaian kualitas genetik yang lebih baik pada keturunan sapi.
"Hasilnya tidak hanya meningkatkan jumlah sapi, tapi juga kualitas keturunan yang lebih unggul dari sisi genetika," tambah Kris Budi.
Hingga Februari 2025, Dinas Pertanian Kobar mencatatkan kelahiran sapi hasil inseminasi buatan sebanyak 98 ekor yang tersebar di lima kecamatan. Rinciannya adalah 14 ekor di Kecamatan Arut Selatan, 18 ekor di Kumai, 28 ekor di Pangkalan Lada, serta 38 ekor di Pangkalan Banteng.
Dinas Pertanian Kobar memberikan apresiasi tinggi kepada petugas inseminasi buatan yang telah bekerja keras dalam meningkatkan jumlah populasi sapi di Kobar.
"Saya berharap petugas reproduksi ternak tetap menjaga profesionalisme dan memberikan pelayanan terbaik bagi para peternak," ujar Kris Budi.
Petugas inseminator, Pramu, menjelaskan bahwa proses inseminasi buatan yang dilakukan menghasilkan sapi yang lahir dengan kondisi normal dan memiliki kualitas lebih baik dibandingkan induknya. Hal ini tidak terlepas dari penggunaan bibit straw yang berkualitas tinggi dari Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Malang, Jawa Timur.









