BORNEONEWS, Sampit – Minat investor untuk membangun rumah sakit swasta di Kotawaringin Timur (Kotim) mulai terlihat. Namun, masih ada beberapa kendala yang membuat realisasi investasi ini belum berjalan.
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan beberapa investor telah menjalin komunikasi, salah satunya dengan Rumah Sakit Islam Sultan Agung. Namun, mereka masih mencari lokasi tanah yang cocok serta mempertimbangkan potensi pasar.
“Investor melihat pangsa pasar terlebih dahulu. Kita di Kotim sudah menerapkan Universal Health Coverage (UHC), sehingga seluruh masyarakat ditanggung pemerintah melalui BPJS. Nah, kalau rumah sakit swasta dibangun, siapa yang akan berobat di sana,” kata Halikinnor, Senin, 24 Maret 2025.
Penerapan UHC di Kotim memungkinkan seluruh masyarakat mendapatkan layanan kesehatan gratis melalui BPJS Kesehatan. Setiap tahun, pemerintah daerah mengalokasikan Rp50-70 miliar untuk mendukung program ini.
Hal ini menurutnya menjadi tantangan investor untuk hadir di Kotim. Jika semua biaya kesehatan sudah ditanggung BPJS, rumah sakit swasta akan kesulitan menarik pasien.
Pemerintah daerah pun berencana meninjau kembali kebijakan UHC, agar ada keseimbangan antara layanan kesehatan publik dan peluang investasi sektor kesehatan di Kotim.
Meski menghadapi tantangan, Pemkab Kotim tetap membuka peluang bagi investor yang ingin membangun rumah sakit swasta. Alternatifnya adalah rumah sakit yang menyasar segmen tertentu, seperti layanan kesehatan premium atau spesialisasi yang belum tersedia di rumah sakit pemerintah.
“Jangan salah menilai Kenapa kok rumah sakit swasta tidak masuk karena kita UHC terus-terusan. Kita gelontorkan Rp50 miliar hingga Rp70 miliar setiap tahun untuk UHC," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









