BORNEONEWS, Palangka Raya - Industri pakan konsentrat Uni Eropa menggunakan berbagai jenis bahan baku utama untuk menghasilkan pakan ternak berkualitas tinggi.
Berdasarkan data FEFAC 2018 dalam Feed and Food Statistical Yearbook 2017, tiga jenis bahan baku utama yang digunakan adalah feed cereals sebanyak 50 persen, oil cake and meal 26 persen, serta co-product dari industri pangan dan bioethanol sebesar 12 persen.
Eddy Abdurrachman, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDP, menjelaskan pentingnya Indonesia dalam menyediakan salah satu bahan baku utama, yaitu palm kernel meal atau PKM.
Rabo Bank 2017 menyebutkan bahwa industri pakan ternak Uni Eropa juga sangat bergantung pada grain sebesar 71 persen dan oil meal sebesar 24 persen.
Grain atau biji-bijian yang digunakan mencakup gandum 32 persen, jagung 30 persen, barley 25 persen, dan biji-bijian lainnya sebanyak 13 persen.
Sedangkan oil meal terdiri dari soybean meal sebanyak 31,6 persen, rapeseed meal 13 persen, sunseed meal 7,5 persen, palm kernel meal 2,6 persen, dan jenis oils meal lainnya 1,4 persen.
"Industri pakan ternak Uni Eropa mendapatkan sebagian besar bahan bakunya melalui impor. Tren impor bahan baku ini terus meningkat dari 41,7 juta ton pada tahun 2011 menjadi 47,1 juta ton pada tahun 2017. Adapun bahan baku pakan yang paling banyak diimpor adalah oils cake and meal sebanyak 54 persen serta cereal atau grain sebanyak 31 persen," kata Eddy dalam rilisnya pada Selasa, 25 Maret 2025.
Palm kernel meal atau PKM menjadi salah satu feedstuffs yang banyak digunakan oleh industri pakan konsentrat untuk menghasilkan pakan ternak maupun ikan.
"Sebagian besar PKM yang diimpor oleh Uni Eropa berasal dari Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia sekaligus produsen bungkil palm kernel terbesar," tuturnya.
Data USDA 2019 yang diolah oleh PASPI menunjukkan bahwa selama periode 2011-2018, ekspor PKM Indonesia mengalami peningkatan signifikan dari 3,37 juta ton menjadi 4,87 juta ton.
Malaysia juga menunjukkan tren serupa dengan peningkatan ekspor PKM dari 2,28 juta ton menjadi 2,45 juta ton. Kedua negara ini terus berperan aktif dalam memenuhi kebutuhan bahan baku pakan ternak dunia.
Sementara itu, ekspor PKM dari Nigeria dan Pantai Gading cenderung stabil. Masing-masing negara ini hanya mampu mengekspor sekitar 75 ribu ton dan 40 ribu ton PKM pada periode yang sama. Kondisi ini semakin menegaskan dominasi Indonesia dan Malaysia sebagai eksportir utama PKM dunia.
Eddy Abdurrachman menegaskan bahwa industri kelapa sawit Indonesia tidak hanya berkontribusi pada penyediaan minyak nabati global, tetapi juga mendukung keberlanjutan industri pakan ternak.
"PKM merupakan salah satu co-product kelapa sawit yang memiliki nilai strategis dalam industri pakan ternak dunia, terutama di Uni Eropa," ujar Eddy.
Fakta ini menjadi bukti konkret bahwa keberlanjutan industri pakan ternak dunia bergantung pada peran aktif Indonesia dalam menyuplai bahan baku berkualitas tinggi.
Dengan terus meningkatkan kualitas dan volume ekspor PKM, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai pemain kunci dalam industri pakan global.(TESTI PRISCILLA/R)









