BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrachman, menyampaikan bahwa hilirisasi minyak sawit tidak hanya berfungsi menghasilkan produk jadi berbasis sawit untuk kebutuhan konsumen di berbagai negara. Lebih dari itu, proses ini dianggap sebagai bentuk "share prosperity" atau berbagi kue ekonomi antara negara produsen dan konsumen minyak sawit.
Menurut Eddy, hilirisasi sawit di jalur pangan, oleokimia, dan bioenergi berkontribusi menciptakan kesempatan kerja, peluang usaha, dan pendapatan.
"Studi menunjukkan bahwa proses hilirisasi di negara konsumen pada 2015 mampu membuka lapangan kerja bagi sekitar 2,36 juta orang. India, China, Afrika, Pakistan, dan Uni Eropa menjadi wilayah dengan distribusi terbesar," kata Eddy dalam rilisnya pada Rabu, 26 Maret 2025.
Kesempatan kerja yang tercipta dari hilirisasi sawit sangat bergantung pada volume konsumsi, teknologi, dan kedalaman proses hilirisasi di negara konsumen. Semakin besar dan beragam hilirisasi, semakin banyak pula pekerjaan yang dihasilkan.
"Selain menciptakan lapangan kerja, studi European Economic menemukan bahwa hilirisasi sawit juga menyumbang pendapatan sebesar USD32,8 miliar secara global. Uni Eropa dan China menjadi penyumbang besar dalam penciptaan pendapatan tersebut," katanya.
Sama seperti lapangan kerja, pendapatan yang dihasilkan hilirisasi sawit bergantung pada jalur dan teknologi yang digunakan. Keragaman proses hilirisasi biasanya memberikan dampak ekonomi lebih signifikan.
Eddy menekankan bahwa hilirisasi sawit memberi manfaat ekonomi bagi seluruh dunia, tidak hanya negara produsen seperti Indonesia, tetapi juga negara maju seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta negara berkembang seperti India, Pakistan, dan Afrika.
"Kontribusi sawit ini turut mendukung pencapaian tujuan SDG-8, yakni pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Industri sawit dianggap inklusif karena manfaatnya dirasakan masyarakat global," bebernya.
Dengan inklusivitas yang tinggi, sawit menjadi sektor strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan sebagaimana diharapkan oleh World Bank. (TESTI PRISCILLA/j)









