BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Bagian Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis Kantor OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Andrianto Suhada, memaparkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan atau SNLIK tahun 2024 yang mengungkapkan data mengejutkan terkait keuangan Syariah di Indonesia.
“Dalam survei tersebut, indeks literasi keuangan Syariah tercatat sebesar 39,11 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan indeks inklusi keuangan yang hanya mencapai 12,88 persen, kata Andrianto dalam rilisnya pada Rabu, 26 Maret 2025.
Andrianto menjelaskan bahwa gap antara indeks inklusi dan literasi keuangan Syariah, sebesar 26,23 persen, menunjukkan masih rendahnya pemahaman dan pemanfaatan produk serta layanan jasa keuangan berbasis Syariah oleh masyarakat Indonesia. Hal ini menjadi tantangan besar untuk meningkatkan kesadaran dan pemanfaatan layanan keuangan Syariah di tengah masyarakat.
Di era digitalisasi keuangan yang semakin berkembang pesat, Andrianto mengingatkan pentingnya pengelolaan keuangan yang baik dan bijak. Ia mengimbau kepada para pelaku UMKM, pelajar, dan masyarakat umum agar berhati-hati terhadap fenomena FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Only Live Once), dan FOPO (Fear of Other People’s Opinions) yang seringkali mendorong keputusan keuangan impulsif dan tidak sesuai kebutuhan.
Menurut Andrianto, salah satu langkah untuk menghindari jebakan aktivitas keuangan ilegal yang marak terjadi adalah dengan memahami produk serta layanan jasa keuangan secara mendalam.
“Bijaklah dalam memilih produk keuangan yang sesuai kebutuhan agar tidak terjebak pada aktivitas yang justru merugikan,” tegasnya.
Selain itu, OJK terus berupaya meningkatkan edukasi dan pelindungan konsumen, khususnya bagi masyarakat di Kalimantan Tengah. Program-program edukasi keuangan Syariah telah diintensifkan guna membantu masyarakat memahami pentingnya literasi serta inklusi keuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Andrianto mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung literasi keuangan Syariah.
“Mari kita bersama-sama mendorong pertumbuhan keuangan Syariah agar lebih inklusif dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/j)









